Bio Farma Gandeng PGN Gagas Perkuat Transisi Energi Lewat Fasilitas CNG
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Bio Farma (Persero) resmi mengoperasikan fasilitas Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan menuju sistem yang lebih efisien, andal, dan berorientasi pada keberlanjutan. Pengembangan fasilitas tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) dalam mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi operasional.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma memanfaatkan CNG untuk memenuhi kebutuhan energi boiler yang menghasilkan uap bagi kegiatan operasional dan proses produksi. Perusahaan juga menerapkan sistem dual fuel, dengan CNG sebagai bahan bakar utama dan solar sebagai cadangan guna menjaga kontinuitas operasional.
Direktur Operasi PT Bio Farma (Persero), Iin Susanti, mengatakan pengoperasian fasilitas CNG merupakan salah satu langkah perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas operasional.
“Pengoperasian fasilitas CNG merupakan langkah konkret Bio Farma untuk membangun kegiatan usaha yang semakin efisien, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma terus memperkuat fundamental perusahaan melalui pengelolaan sumber daya yang efektif, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Langkah ini sekaligus memperkuat keandalan operasional yang mendukung keberlangsungan proses produksi dan kontribusi Bio Farma terhadap ketahanan kesehatan nasional,” ujar Iin dalam keterangannya, Rabu (15/7).
Menurut Bio Farma, penggunaan CNG sebagai pengganti bahan bakar utama boiler diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon dioksida sekitar 24 persen dibandingkan penggunaan solar. Selain itu, implementasi fasilitas tersebut diperkirakan dapat meningkatkan efisiensi biaya energi hingga 37 persen per tahun, bergantung pada tingkat utilisasi fasilitas, kebutuhan produksi, harga energi, dan kondisi operasional.
Perusahaan menilai pemanfaatan CNG menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan transisi energi karena memiliki intensitas emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar diesel.
“Keberlanjutan merupakan proses jangka panjang yang harus diwujudkan melalui langkah konkret, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ke depan, Bio Farma akan terus mengevaluasi pemanfaatan teknologi dan sumber energi yang lebih efisien serta rendah emisi, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan, kelayakan investasi, efisiensi, dan keandalan produksi. Dengan demikian, transformasi yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata bagi kinerja perusahaan sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi negara, masyarakat, dan lingkungan,” lanjut Iin.
BACA JUGA
- Gubernur Koster Minta PLN Longgarkan Kuota PLTS Atap untuk Bali
- Kenaikan Muka Air Laut Ancam Kelompok Rentan, Bappenas Soroti Akses Bansos
- Pemprov Bali Wajibkan PLTS Atap untuk Bangunan Komersial Baru di Bali
Fasilitas CNG yang dioperasikan mencakup shelter penerimaan gas, Pressure Regulating Station, sistem metering, jaringan pipa distribusi, hingga integrasi dengan burner dan panel kontrol boiler. Seluruh sistem dirancang untuk memastikan proses penyaluran gas berlangsung secara aman, andal, dan terukur.
Bio Farma juga menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama melalui penerapan sistem deteksi kebocoran gas, penghentian aliran otomatis, pengaturan tekanan, proteksi kebakaran, serta pengujian integritas jaringan pipa.
“Penerapan sistem dual fuel memberikan fleksibilitas bagi Bio Farma dalam menjaga kontinuitas pasokan energi. CNG digunakan sebagai bahan bakar utama, sementara solar tetap tersedia sebagai cadangan apabila terjadi gangguan pasokan atau kondisi operasional yang memerlukan penyesuaian. Bio Farma juga akan menjalankan inspeksi, pemeliharaan preventif, pengujian peralatan, dan evaluasi risiko secara berkala untuk memastikan fasilitas beroperasi sesuai persyaratan teknis, keselamatan dan kesehatan kerja, serta ketentuan lingkungan yang berlaku,” jelas Iin.
Pengembangan fasilitas tersebut dilakukan bersama PGN Gagas yang menyediakan layanan pasokan dan pengelolaan CNG, termasuk infrastruktur penerimaan, penyaluran, serta dukungan teknis operasional.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi di sektor-sektor strategis.
“Kolaborasi dengan Bio Farma menjadi bagian dari komitmen kami memperluas manfaat CNG ke sektor-sektor esensial yang menopang kebutuhan dasar masyarakat, termasuk kesehatan. Keandalan pasokan energi di fasilitas produksi seperti Bio Farma sangat penting, karena menyangkut kesinambungan produksi yang berdampak langsung pada layanan kesehatan publik,” ujar Santiaji.
Ke depan, Bio Farma dan PGN Gagas akan terus melakukan pemantauan terhadap konsumsi energi, penurunan intensitas emisi, efisiensi biaya, keandalan pasokan, serta kinerja keselamatan fasilitas sebagai dasar evaluasi dan peningkatan pengelolaan energi secara berkelanjutan.
