PLN EPI Catat Penghematan Emisi 710 Kg CO2e Lewat Program EPI Clean Energy Day
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mencatat penghematan emisi karbon sebesar 710,87 kilogram setara CO2 (CO2e) melalui program EPI Clean Energy Day, yang mendorong pegawai menggunakan moda transportasi rendah emisi sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan program yang digelar setiap hari Jumat tersebut menjadi salah satu langkah perusahaan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), menekan jejak karbon, sekaligus membangun budaya kerja yang lebih berkelanjutan.
Program ini juga merupakan implementasi arahan pemerintah, Badan Pengelola (BP) BUMN, dan PT PLN (Persero) dalam mendorong efisiensi energi serta pengurangan emisi karbon di lingkungan kerja.
Berdasarkan laporan pelaksanaan kumulatif periode 28 April hingga 3 Juli 2026, sebanyak 246 pegawai telah mengikuti program tersebut.
Dari jumlah tersebut, PLN EPI mencatat penghematan emisi sebesar 710,87 kg CO2e, setara penghematan konsumsi 292,3 liter Pertamax, serta efisiensi biaya transportasi mencapai Rp3,9 juta.
“Capaian tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran pegawai untuk menerapkan gaya hidup rendah karbon sekaligus menjadi langkah awal menuju pencapaian target tahunan program,” sebut Mamit dalam keterangannya Rabu (15/7).
Menurut Mamit, transisi energi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan teknologi maupun penyediaan energi bersih, tetapi juga melalui perubahan perilaku seluruh insan perusahaan.
Ia meyakini kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan perusahaan.
BACA JUGA
- IIF Himpun Dana Rp655,5 Miliar untuk Perluas Pembiayaan Infrastruktur Berkelanjutan
- Kenaikan Muka Air Laut Ancam Kelompok Rentan, Bappenas Soroti Akses Bansos
- Pemprov Bali Wajibkan PLTS Atap untuk Bangunan Komersial Baru di Bali
“Kami mengapresiasi antusiasme seluruh pegawai yang telah berpartisipasi. Setiap perjalanan yang beralih ke moda transportasi rendah emisi merupakan kontribusi nyata dalam membangun budaya kerja yang lebih efisien, mendukung pencapaian target net zero emissions (NZE), serta menunjukkan bahwa transformasi energi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara bersama,” tambahnya.
Untuk mengukur dampak program secara objektif, setiap peserta mencatat histori perjalanan yang kemudian dikonversi menjadi data pengurangan emisi karbon, penghematan konsumsi BBM, serta efisiensi biaya transportasi.
“Pendekatan berbasis data tersebut memungkinkan perusahaan memantau efektivitas program sekaligus mendorong peningkatan partisipasi pegawai secara berkelanjutan,” sebut Mamit.
