BRIN Kembangkan Tanaman Malapari sebagai Bahan Baku Biodiesel dan SAF
Jakarta, sustainlifetoday.com – Tanaman malapari (Pongamia pinnata) yang selama ini dikenal tumbuh di kawasan pesisir dan hutan mangrove dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan. Selain mampu bertahan di lahan marginal, biji tanaman asli Indonesia tersebut menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel hingga sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Potensi tersebut ditampilkan dalam kegiatan Capacity Building dan Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) melalui etalase tematik Kelompok Riset Teknologi Makropropagasi, Pusat Riset Botani Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Danu, mengatakan malapari berpeluang menjadi salah satu komoditas strategis dalam mendukung pengembangan bioenergi nasional.
“Malapari merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Bahkan, minyaknya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF),” ujar Danu dikutip laman BRIN pada Rabu (15/7).
Menurut Danu, BRIN tidak hanya mengembangkan teknologi pengolahan minyak malapari, tetapi juga membangun rantai pasok bahan baku agar pengembangannya berlangsung secara berkelanjutan.
Saat ini, BRIN bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan instansi untuk mengembangkan kawasan budidaya malapari di berbagai lokasi. Pengembangan kebun dilakukan secara paralel dengan pembangunan fasilitas pengolahan agar pasokan bahan baku dan industri dapat berkembang secara bersamaan.
“Kami mengembangkan penanaman malapari di beberapa lokasi sebagai sumber bahan baku (feedstock). Pengembangannya dilakukan secara paralel dengan pembangunan fasilitas pengolahan sehingga ketika pasokan bahan baku sudah tersedia, industri pengolahannya juga telah siap beroperasi,” kata Danu.
BACA JUGA
- Gubernur Koster Minta PLN Longgarkan Kuota PLTS Atap untuk Bali
- Potensi Super El Nino Meningkat, WMO Minta Negara Bersiap Hadapi Dampaknya
- Bakom: TPA Berpotensi Lumpuh pada 2028 Jika Pengelolaan Sampah Tak Dibenahi
Selain menghasilkan minyak nabati, malapari dinilai memiliki keunggulan karena mampu tumbuh di lahan kritis maupun kawasan pesisir yang kurang produktif untuk pertanian. Karakteristik tersebut membuat tanaman ini berpotensi mendukung rehabilitasi lahan sekaligus menyediakan sumber energi terbarukan tanpa bersaing dengan kebutuhan lahan pangan.
BRIN juga mengembangkan bibit unggul malapari guna mendukung perluasan budidaya. Setelah kawasan inti memiliki kapasitas produksi yang memadai, pengembangan akan diperluas melalui kemitraan dengan masyarakat.
Tidak hanya bijinya, hampir seluruh bagian tanaman malapari memiliki nilai ekonomi. Ampas hasil ekstraksi biji dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan daunnya berpotensi menjadi bahan baku produk kecantikan melalui kerja sama dengan mitra industri.
Danu berharap pengembangan malapari tidak hanya mendukung transisi energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami telah berhasil menghasilkan biodiesel dari malapari. Harapannya masyarakat semakin mengenal tanaman ini dan tertarik untuk ikut mengembangkannya. Bahkan, minat dari perusahaan-perusahaan luar negeri, termasuk Jepang, terhadap malapari sudah cukup tinggi. Ini menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di Indonesia memiliki potensi besar menjadi komoditas bioenergi yang kompetitif di tingkat global,” ujarnya.
Dengan kemampuan tumbuh di lahan marginal, potensi pemanfaatan hampir seluruh bagian tanaman, serta peluang sebagai bahan baku biodiesel dan SAF, malapari dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung transisi energi sekaligus mendorong pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.
