AS Jadi Penyumbang Terbesar Kenaikan Emisi Karbon Global pada 2025
Jakarta, sustainlifetoday.com – Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan emisi karbon sebesar 3,2% pada 2025, tertinggi di antara negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Berdasarkan Statistical Review of World Energy edisi ke-75 yang dirilis Energy Institute bersama Ember, Kearney, dan KPMG, lonjakan tersebut empat kali lebih tinggi dibandingkan kenaikan emisi China secara absolut.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (30/6), emisi karbon China hanya meningkat 0,3% secara tahunan, sementara India mencatat kenaikan 0,9%. Kedua negara tersebut masih berada di bawah rata-rata kenaikan emisi global yang mencapai 1,1%.
Secara global, emisi dari sektor energi mencapai 35,80 miliar ton setara karbon dioksida (CO2e) sepanjang 2025, naik sekitar 310 juta ton dibandingkan 35,49 miliar ton pada tahun sebelumnya.
AS menjadi penyumbang terbesar peningkatan emisi tersebut dengan tambahan hampir 129,5 juta ton CO2e atau sekitar sepertiga dari total kenaikan global. Lonjakan itu terutama dipicu oleh meningkatnya pembangkitan listrik berbasis batu bara sebesar 13%.
Di sisi lain, sejumlah negara justru mempercepat transisi menuju energi bersih. Laporan Energy Institute menunjukkan arah transisi energi global kini semakin beragam.
BACA JUGA
- Lippo Malls Indonesia Integrasikan ESG melalui Perluasan PLTS Atap
- IKEA Indonesia Perkuat ESG Lewat Daur Ulang dan Dukungan bagi UMKM
- Nilai Investasi Pertamina NRE di Perusahaan EBT Filipina Melonjak Hampir 50 Persen
China mencatat rekor baru dalam pembangkitan listrik tenaga angin dan surya dengan total produksi yang telah melampaui gabungan seluruh negara lain. Pada saat yang sama, pembangkitan listrik berbasis batu bara di negara tersebut terus menurun.
India juga menunjukkan tren positif dengan menurunnya pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara, minyak, dan gas secara bersamaan, disertai lonjakan pembangkitan energi terbarukan hampir 24%.
Di kawasan Eropa, pembangkitan energi terbarukan meningkat 7%, meskipun pertumbuhannya tertahan oleh melemahnya produksi listrik tenaga air dan sedikit penurunan pembangkitan listrik tenaga angin. Inggris menjadi pengecualian dengan lonjakan pembangkitan listrik tenaga surya hingga 37%.
Sementara itu, di AS pembangkitan listrik tenaga surya naik 28% dan tenaga angin tumbuh 3%. Namun, kenaikan pembangkitan listrik berbasis batu bara sebesar 13% menjadi faktor utama meningkatnya emisi karbon negara tersebut.
Dari sisi produksi energi, kawasan Amerika kini menghasilkan minyak sekitar 20% lebih banyak dibandingkan Timur Tengah. Produksi minyak dan gas AS juga meningkat 4% sepanjang 2025, membalikkan kondisi dua dekade lalu ketika produksi Timur Tengah masih lebih tinggi sekitar 20% dibandingkan kawasan Amerika.
Laporan tersebut juga mencatat produksi minyak AS naik 4,8%, sehingga membantu menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Secara keseluruhan, permintaan energi dunia tumbuh 1,7% sepanjang 2025. Seluruh sumber energi utama kembali mencatat rekor konsumsi tertinggi untuk tahun kedua berturut-turut.
Meski demikian, peningkatan efisiensi energi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) masih berada di level 2%, jauh di bawah target peningkatan efisiensi tahunan sebesar 4% yang disepakati dalam COP28.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi, energi terbarukan untuk pertama kalinya menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan total pasokan energi (total energy supply/TES) di luar periode resesi. Energi surya menyumbang sekitar 71% dari pertumbuhan tersebut.
Secara global, pembangkitan listrik tenaga surya meningkat 30%, sementara kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai melonjak 66%, menjadikannya teknologi energi bersih dengan pertumbuhan tercepat.
Permintaan listrik dunia juga naik 3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total pasokan energi. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, pusat data (data center), serta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Untuk pertama kalinya, seluruh tambahan permintaan listrik global dipenuhi oleh sumber energi rendah karbon. Energi terbarukan dan tenaga air bahkan melampaui batu bara sebagai sumber pembangkitan listrik terbesar, sementara pembangkitan listrik berbasis bahan bakar fosil secara keseluruhan mengalami penurunan.
China menjadi negara dengan pertumbuhan konsumsi listrik tercepat di antara ekonomi besar dunia, yakni lebih dari 5%. Tambahan konsumsi listriknya setara dengan total penggunaan listrik Jerman selama satu tahun.
Sementara itu, permintaan listrik di AS meningkat 3%, sejalan dengan rata-rata pertumbuhan global. Laporan tersebut juga untuk pertama kalinya mencatat konsumsi listrik pusat data dunia mencapai 788 terawatt hour (TWh) pada 2025, dengan sekitar 40% di antaranya berasal dari Amerika Serikat.
