Hashim Djojohadikusumo Masuk Dewan Penasihat METI, Dorong Akselerasi EBT
Jakarta, sustainlifetoday.com — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) resmi mengumumkan struktur kepengurusan baru untuk periode 2025–2028. Salah satu nama yang menarik perhatian publik adalah bergabungnya Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, sebagai Dewan Penasihat METI.
METI merupakan organisasi yang aktif mengkampanyekan energi bersih, energi terbarukan, serta konservasi energi di Indonesia. Dalam pengumuman yang disampaikan melalui akun Instagram resmi mereka, METI menyebut pergantian susunan pengurus ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat upaya transisi energi nasional.
“Dengan penuh syukur dan semangat baru, kami memperkenalkan Struktur Kepengurusan METI (Masa Bakti 2025–2028). Semoga amanah ini dapat membawa METI semakin maju, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat,” dikutip dari Instagram METI, Senin (17/11).
Susunan Pengurus METI 2025–2028:
• Ketua Umum METI: Zulfan Zahar
• Dewan Penasihat: Hashim Djojohadikusumo
• Dewan Pengawas: Wiluyo Kusdwiharto
• Dewan Pakar: Herman Darnel Ibrahim
• Koordinator Komite Energi Terbarukan: Suroso Isnandar

Dalam berbagai pernyataan sebelumnya, METI menegaskan bahwa penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menjadi peluang strategis bagi investasi hijau di Indonesia. Pengurus harian METI juga menyoroti bahwa ESG kini menjadi standar global bagi bisnis yang ingin bertahan di tengah tekanan perubahan iklim.
Baca Juga:
- APP Group dan WWF Dorong Regenerasi Hutan Berkelanjutan di Indonesia
- PT Vale Indonesia Masuk Daftar 15 Perusahaan Tambang dengan Risiko ESG Terendah Dunia
- KLH Tindaklanjuti Kematian Dua Pesut Mahakam, Perketat Pengawasan Tambang dan Tongkang
Mereka menegaskan bahwa ESG “bukan lagi sekadar tren, tetapi telah menjadi kerangka utama investasi dan bisnis global untuk menjawab tantangan perubahan iklim.” Bagi Indonesia yang kaya sumber daya alam, arah baru tersebut dinilai tidak bisa diabaikan. METI menyebut ESG adalah bentuk nyata dari praktik sustainability. ESG kini bukan lagi pilihan, tapi keharusan, terutama bagi perusahaan ekspor dan perusahaan energi.
Sorotan terhadap transisi energi bersih semakin menguat terutama setelah negara-negara maju mendorong pengurangan energi fosil, seperti batu bara dan percepatan pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTS, PLTA, biomassa, panas bumi, hingga biodiesel.
Perubahan lanskap energi ini disebut berdampak langsung pada Indonesia, yang kini menghadapi tekanan global untuk menurunkan porsi PLTU batu bara dan memperluas pengembangan energi bersih.
