Dinilai Tidak Berkelanjutan, Menteri LH: Banyak Air Minum Kemasan Masih Gunakan Air Tanah
Jakarta, sustainlifetoday.com — Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa masih banyak merek air minum kemasan di Indonesia yang menggunakan air tanah, meskipun mengklaim produknya berasal dari sumber pegunungan. Ia menyebut hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan air minum kemasan di Indonesia yang memanfaatkan air permukaan secara berkelanjutan.
Menurut Hanif, praktik tersebut menunjukkan rendahnya komitmen pelaku industri terhadap upaya konservasi sumber daya air yang seharusnya menjadi investasi jangka panjang.
“Air minum pegunungan, saya enggak usah sebut mereknya. Namanya air minum pegunungan tetapi yang digunakan air tanah,” ujarnya dilansir Kamis (23/10).
Hanif menilai eksploitasi air tanah secara berlebihan oleh perusahaan air minum dalam kemasan merupakan praktik yang tidak berkelanjutan dan dapat mengancam ketersediaan sumber daya air di masa depan.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan air minum internasional yang beroperasi di Indonesia masih mengandalkan air tanah. Kondisi ini berisiko tinggi karena air tanah memiliki tingkat pemulihan yang sangat lambat.
Baca Juga:
- Hutama Karya Mantapkan Langkah Hijau Lewat Roadmap ESG 2025–2030
- Menteri LH: Seluruh Sungai di Jabodetabek Tercemar, Biodiversity Hilang!
- BRI Tegaskan Implementasi ESG Lewat Program BRI Peduli
“Pasokan air tanah sangat sulit untuk dipulihkan kembali, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk memulihkan pasokan air tanah di Jakarta. Orang Geologi pasti paham, air tanah tidak mudah kembali. Bahkan, boleh kita katakan tidak kembali,” katanya.
Hanif juga menyoroti maraknya praktik pengambilan air tanah berlebih untuk dikomersialkan, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Ia menegaskan bahwa laju rembesan air tanah hanya sekitar 100 sentimeter per hari, sehingga proses pemulihan memerlukan waktu yang panjang.
Lebih lanjut, Hanif menilai bahwa sebagian besar perusahaan belum benar-benar menjalankan prinsip konservasi air secara nyata, meskipun sering menggaungkan jargon keberlanjutan.
“Konsep konservasi sebagai investasi jangka panjang ini baru sebatas gimmick yang banyak disampaikan oleh perusahaan,” tutur Hanif.
