BMKG Rilis Status Siaga Hujan Sangat Lebat 6 Provinsi, 78 Persen Indonesia Masuki Musim Hujan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa keberadaan Siklon Tropis Arnab yang terpantau di Teluk Benggala, sisi timur laut Samudra Hindia, tidak memberikan dampak langsung terhadap dinamika cuaca maupun gelombang laut di Indonesia. Hujan sedang hingga ekstrem yang mengguyur sebagian wilayah Sumatra dipicu oleh fenomena dinamika atmosfer lainnya.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan bahwa posisi Siklon Tropis Arnab per 27 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB berada di luar area pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, tepatnya pada koordinat 16,0 derajat LU dan 84,8 derajat BT. Sistem ini mencatatkan kecepatan angin maksimum 90 knot (sekitar 166 km per jam) dengan tekanan udara minimum 968 hPa, serta diproyeksikan melemah dalam dua hari ke depan saat bergerak menuju daratan India.
“Berdasarkan analisis saat ini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia,” kata Andri dalam keterangan resminya, Selasa (27/10/2026).
Siklon Arnab mulanya berkembang dari bibit siklon 98B di Laut Andaman sejak 19 Oktober 2026 sebelum menguat menjadi siklon tropis pada 26 Oktober 2026.
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Meskipun Arnab tidak berdampak langsung, BMKG mencatat bahwa tingginya intensitas hujan di Aceh dan Sumatra dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh kombinasi sirkulasi siklonik baru di Laut Andaman utara Aceh, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta Gelombang Rossby Ekuatorial di Sumatra bagian utara.
Kendati peluang penguatan sirkulasi siklonik Laut Andaman tergolong rendah dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia, pemicu ini tetap merangsang pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lebat.
“Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian utara,” ujar Sekretaris Utama BMKG Guswanto.
Kondisi ini bertepatan dengan masuknya periode musim hujan di sebagian Sumatra bagian utara, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat bagian utara, dan Riau bagian utara.
BACA JUGA
- Survei: 85 Persen Pengelola Aset Global Bersiap Tambah Alokasi Portofolio Berkelanjutan
- Sebut Karhutla Kejahatan Masif, WALHI Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Asap Sebagai Ekosida
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Berdasarkan pemodelan BMKG untuk Dasarian I (1–10) November 2026, sekitar 78 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami curah hujan kategori menengah (50–150 milimeter per dasarian), mencakup Sumatra, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Sebaliknya, curah hujan kategori rendah didominasi oleh wilayah Lampung, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Sebagai langkah mitigasi krisis iklim harian, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat untuk periode 27–29 Oktober di Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Sementara pada periode 30 Oktober–2 November, status siaga berlanjut untuk Kalimantan Barat, disertai potensi angin kencang di beberapa kawasan Sumatra, Jawa, dan Sulawesi Selatan.
Guswanto meminta warga di wilayah rawan, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi cuaca ekstrem. Kenali kondisi lingkungan sekitar, tingkatkan kewaspadaan ketika hujan lebat berlangsung, dan ikuti arahan pihak berwenang apabila kondisi cuaca berpotensi membahayakan,” ujar Guswanto.
