Survei: 85 Persen Pengelola Aset Global Bersiap Tambah Alokasi Portofolio Berkelanjutan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pasar keuangan global mencatatkan kebangkitan signifikan dalam integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam portofolio investasi arus utama. Edisi terbaru survei pemilik aset dari London Stock Exchange Group (LSEG) merekam lonjakan proporsi pengelola dana yang memasukkan unsur keberlanjutan ke dalam strategi investasi mereka dari 73 persen pada 2025 menjadi 84 persen pada 2026, sementara 15 persen sisanya saat ini tengah mempertimbangkan penerapannya.
Melansir laporan ESG Dive, tren penguatan ini ditandai oleh pendalaman porsi modal yang dikelola secara berkelanjutan. Lebih dari separuh (51 persen) pemilik aset yang disurvei kini memperhitungkan faktor keberlanjutan pada lebih dari 50 persen aset mereka, melonjak drastis dari 26 persen pada tahun sebelumnya. Bahkan, sebanyak 11 persen responden menyatakan mengelola 100 persen portofolio mereka dengan pendekatan ini, naik dari 0 persen pada survei tahun lalu.
Prospek ekspansi instrumen ini diproyeksikan terus berlanjut. Sebanyak 85 persen pemilik aset memperkirakan akan meningkatkan pertimbangan faktor keberlanjutan atau memperluas penggunaan produk investasi berkelanjutan dalam satu hingga tiga tahun ke depan, tanpa ada satu pun responden yang berencana mengurangi porsi tersebut.
Perkembangan ini menandai pemulihan signifikan setelah keterlibatan investasi berkelanjutan sempat mengalami penurunan secara bertahap dari 86 persen pada 2022 menjadi 74 persen pada 2023, dan berlanjut ke 71 persen pada 2024 akibat gejolak geopolitik serta revisi regulasi pengungkapan. Saat ini, keberlanjutan telah terintegrasi secara luas sebagai variabel penentu risiko dan keuntungan portofolio.
Sebanyak 47 persen responden mengonfirmasi bahwa mereka mengejar investasi berkelanjutan guna meningkatkan imbal hasil portofolio, naik dari 41 persen pada 2025. Sebaliknya, kekhawatiran terhadap kinerja keuangan justru menyusut dari 27 persen menjadi 19 persen pada tahun ini.
Survei LSEG ini menjangkau 402 pemilik aset senior di 24 negara yang tersebar di Amerika Utara (30 persen), Asia Pasifik (30 persen), serta kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (40 persen). Mayoritas pengelola dana yang disurvei memegang skala aset antara 1 miliar hingga lebih dari 100 miliar dolar AS.
BACA JUGA
- Penelitian Sebut ‘Ekonomi Api’ dan Ketimpangan Data Perburuk Karhutla 2026
- Perkuat Tanggap Darurat Karhutla Kalteng, TAP Salurkan 50 Unit Pompa Air dan Logistik Pemadam
- Lewat Program Pertamina Hijau, 37 Relawan Patra Logistik Bersihkan Taman Tangkuban Perahu
Meningkatnya intensitas gelombang panas ekstrem dan krisis energi mendorong investor memperhitungkan risiko iklim secara nyata. Lebih dari separuh (52 persen) pemilik aset telah mengintegrasikan risiko iklim ke dalam alokasi investasi di berbagai kelas aset, naik dari 36 persen pada 2025. Selain itu, 30 persen responden berupaya melakukan divestasi dari aset-aset tinggi karbon, sementara 60 persen lainnya memilih melanjutkan pendekatan keterlibatan langsung (engagement).
Di sisi lain, investor menghadapi kemunculan risiko-risiko baru, termasuk isu layanan kesehatan (25 persen), kecerdasan buatan atau AI (24 persen), dan ketahanan pangan (19 persen). Isu tata kelola, pajak, dan hak pemegang saham melonjak menjadi prioritas utama yang diidentifikasi oleh 32 persen responden, naik tajam dari 18 persen pada 2025. LSEG mencatat bahwa masalah tata kelola di perusahaan-perusahaan AI besar serta penyebaran pusat data menjadi perhatian kritis investor.
Mengenai hambatan utama, kualitas pelaporan perusahaan masih menjadi keluhan terbesar yang dirasakan oleh 33 persen responden. Kendati demikian, persepsi terhadap regulasi mulai bergeser positif, di mana 36 persen responden kini memandang regulasi sebagai pendorong investasi berkelanjutan, naik dari 22 persen pada tahun lalu.
Lee Clements, Kepala Riset Investasi Berkelanjutan Terapan di FTSE Russell, menggarisbawahi bahwa dinamika adopsi ke depan sangat bergantung pada kepastian kerangka kebijakan dan kondisi makroekonomi.
“Ke depan, stabilitas kebijakan dan pendekatan pemerintah terhadap keberlanjutan akan berdampak pada tingkat adopsi, begitu pula dengan arah umum pasar dan perekonomian secara keseluruhan karena pasar yang sedang turun cenderung membuat para pemilik aset mengesampingkan masalah keberlanjutan demi memitigasi risiko,” kata Clements.
BACA JUGA
