YIARI Evakuasi 53 Orangutan Terdampak Karhutla, Soroti Kerusakan Organ dan Trauma Satwa
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga memicu krisis ekologis jangka panjang bagi keberlangsungan hidup satwa dilindungi. Hilangnya ruang hidup alami memaksa satwa liar keluar dari habitatnya, yang berpotensi memicu benturan sosial dengan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Senior Manager Media dan Komunikasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Heribertus Suciadi, menjelaskan bahwa krisis ruang hidup ini berdampak langsung pada pergerakan orang utan ke area permukiman dan perkebunan warga.
“Kalau kita bicara efek jangka panjang dan ini bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kebakaran, itu adalah potensi konflik antara manusia dan orangutan. Dari hutan yang terbakar itu, kita sampai saat ini sudah rescue 53 orangutan dan kebanyakan induk anak. Sementara yang jantan karena kuat dan mobilitasnya jauh, dia akan pergi ke luar hutan dan kebanyakan berakhir di kebun warga,” ujar Heribertus dikutip dari siaran Metro TV, Jumat (23/10/2026).
Masuknya orangutan ke lahan pertanian warga mulai menimbulkan keresahan hingga ancaman keselamatan bagi satwa tersebut.
“Ini jadi masalah karena kemudian dia juga makan tanaman warga. Tim kami di lapangan sudah mendapatkan beberapa laporan dari warga, dan beberapa ada yang sudah cukup marah. Bahkan ada juga yang sampai mengancam akan melukai orangutan ini. Ini yang menjadi masalah jangka panjang kita karena hutan tidak akan bisa kembali dengan cepat,” tuturnya.
Selain kehilangan habitat, tim medis di lapangan menemukan banyak individu orang utan mengalami trauma fisik parah akibat paparan api dan ancaman lain saat menyelamatkan diri.
“Kalau secara fisik ketika kita di lapangan itu ada yang luka bakar, ada juga luka terbuka karena hutannya habis dia terpaksa turun, kemudian diserang diduga anjing liar. Pemeriksaan mendalam kami di klinik itu mereka mengalami dehidrasi, bahkan juga ada yang anemia parah,” kata Heribertus.
Ia menyebut paparan kabut asap pekat juga terbukti memberikan dampak fatal pada organ dalam satwa.
“Di awal-awal kebakaran itu ada satu yang sampai mati. Kemudian kita nekropsi, ada lesi di paru-paru yang mengindikasikan ada kerusakan di paru-paru dan ginjal karena asap kebakaran,” ungkapnya.
Di sisi lain, tekanan ekologis ini memicu dampak psikologis berupa tingkat stres ekstrem yang membahayakan keselamatan individu, khususnya bagi kelompok induk dan anak.
“Dari sisi psikologis yang sekarang nampak itu adalah tingkat stres mereka sangat tinggi. Dan untuk induk-anak ini cukup mengkhawatirkan karena ketika induk orang utan stres, dia seringkali menyakiti anaknya sendiri, kadang dipukul atau dilempar. Itu yang perlu kita pikirkan lebih jauh,” jelas Heribertus.
BACA JUGA
- Soroti Karhutla dan MSCI, Dino Patti Djalal Minta Indonesia Jaga ‘Trust’ Negara Tetangga
- Pidato Bahasa Jawa, Anggota Parlemen Malaysia Sentil Prabowo Soal Kabut Asap Karhutla
- Lewat Program Pertamina Hijau, 37 Relawan Patra Logistik Bersihkan Taman Tangkuban Perahu
Untuk memulihkan kondisi satwa, YIARI menerapkan prosedur perawatan intensif dan karantina ketat guna meminimalisasi interaksi dengan manusia sebelum dilepasliarkan kembali.
“Perawatannya disesuaikan dengan kondisi orangutannya. Kalau ada luka kita obati, kalau anemia kita beri nutrisi, dan dehidrasi diberi buah banyak air. Untuk meminimalisir stres, kami sediakan kandang karantina dengan akses sangat terbatas, hanya dokter hewan dan perawat satwa terlatih yang boleh masuk. Upaya paling penting adalah segera merelokasikan mereka ke hutan asli yang lebih aman, jadi diusahakan jangan terlalu lama di kandang,” tuturnya.
Kendati demikian, penanganan di tingkat klinis menghadapi tantangan berat berupa terbatasnya kawasan hutan yang aman dan bebas dari kebakaran.
“Kalau mereka ditemukan sehat, seminggu untuk asesmen sudah bisa dilepas. Tapi kalau ada luka bakar atau luka terbuka cukup parah, kita bereskan dulu lukanya sampai menutup, steril, dan sehat. PR-nya sebenarnya lebih susah mencari habitat yang sesuai karena saat ini masih banyak yang terbakar. Pemilihan habitat tidak bisa sembarangan, ada banyak syarat yang harus dipenuhi,” kata Heribertus.
Hingga saat ini, YIARI telah berhasil melepasliarkan 15 individu orangutan yang dinyatakan pulih sepenuhnya, sementara puluhan individu lainnya masih menjalani perawatan intensif.
Merespons krisis ini, Heribertus menekankan pentingnya pendekatan tata kelola kawasan yang holistik dan kolaboratif, mengingat mayoritas populasi satwa berada di luar kawasan yang dilindungi secara resmi.
“Yang jelas harus ada tata kelola kawasan yang baik. Karena dari semua orangutan yang ada di Indonesia ini, menurut penelitian lebih dari 70 persen itu ada di luar kawasan konservasi. Harus ada kerja sama yang baik antara masyarakat, swasta, dan pemerintah untuk bagaimana bisa menjaga kawasan hutan yang berada di luar kawasan konservasi,” pungkasnya.
BACA JUGA
