Riset Buktikan Paparan Asap PM2,5 dan Suhu Panas Karhutla Turunkan ‘Survival Rate’ Satwa
Jakarta, sustainlifetoday.com – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua tidak hanya menghancurkan tutupan vegetasi, tetapi juga memicu ancaman serius terhadap keberlanjutan satwa liar, khususnya kelompok rentan seperti telur dan anak satwa yang dilindungi.
Kombinasi paparan suhu ekstrem, kepungan asap beracun, serta kerusakan daya dukung habitat menjadi variabel pendorong yang menurunkan angka keberhasilan hidup (survival rate) fauna endemik Indonesia.
Suhu tinggi akibat perambatan api dapat secara langsung memicu kegagalan perkembangan embrio pada telur satwa. Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ornithological Applications pada 2021, suhu tinggi bisa memengaruhi keberhasilan hidup anak burung, terutama ketika kebakaran mengubah kondisi habitat dan ketersediaan makanan.
Risiko kegagalan penetasan ini makin terkonfirmasi melalui studi terhadap burung pemangsa yang dipublikasikan dalam jurnal Global Change Biology pada 2023. Penelitian tersebut menemukan bahwa kegagalan penetasan meningkat ketika suhu maksimum di kotak sarang melampaui 44 derajat Celsius. Telur yang berada di sarang terbuka atau lokasi yang kehilangan tutupan kanopi pohon menghadapi ancaman terbesar akibat ketiadaan isolasi termal.
BACA JUGA
- Optimalkan Aset PLTS 100 GWp, Xurya Dorong Adopsi Teknologi dan Green Jobs
- Singapura Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla ke Indonesia dan Selidiki Perusahaan Pemicu Asap
- Dukung Industri Baterai EV, BRIN Olah Grafit Alam Domestik Jadi Material Elektroda
Selain ancaman termal, terpaparnya atmosfer oleh asap karhutla memberikan dampak fisiologis berjangka panjang pada perkembangan anak satwa yang belum memiliki kemampuan mobilitas untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2025, paparan polusi partikel halus dari asap kebakaran hutan dapat menghambat pertumbuhan anak burung. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak burung house wren yang terpapar peningkatan PM2,5 selama tiga hari pada awal kehidupannya memiliki berat badan dan ukuran tulang kaki yang lebih rendah dibandingkan anak burung pada tahun-tahun pembanding. Hal ini membuktikan bahwa polusi udara karhutla tidak sekadar mengganggu sistem pernapasan, melainkan menghambat tumbuh kembang fisik satwa.
Dari perspektif lanskap ekosistem, karhutla menghancurkan vegetasi bawah dan pohon bersarang yang menjadi tempat perlindungan utama dari predator maupun cuaca ekstrem. Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Forest Ecology and Management pada 2016, tingkat keparahan kebakaran memengaruhi keberadaan mamalia asli di hutan yang terbakar di Australia tenggara. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi lingkungan setelah kebakaran, termasuk pemulihan vegetasi, berperan dalam menentukan kesesuaian habitat bagi satwa.
Kerusakan habitat secara struktural ini memaksa induk satwa mencari pakan ke area yang lebih jauh, meninggalkan anak dan telur tanpa perlindungan. Sekalipun api berhasil dipadamkan, degradasi fungsi lingkungan dan lambatnya pemulihan vegetasi tetap menjadi ancaman laten bagi kelangsungan generasi satwa liar di kawasan terdampak.
