Laporan TNFD 2026: Adopsi Standar Risiko Alam Naik Dua Lipat, Tembus 1.000 Perusahaan Global
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penerapan kerangka pelaporan risiko lingkungan berstandar Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) mengalami akselerasi signifikan di tingkat global. Laporan Status TNFD 2026 mencatat lebih dari 1.000 perusahaan di seluruh dunia kini telah menerbitkan laporan keterbukaan risiko alam, melonjak dua kali lipat (100 persen) dibandingkan tahun sebelumnya di 56 negara.
TNFD merupakan kerangka panduan internasional yang dirancang untuk membantu korporasi dan lembaga keuangan mengukur, mengelola, serta melaporkan risiko bisnis yang berkaitan langsung dengan daya dukung alam, seperti efisiensi air bersih, pencegahan deforestasi, hingga penanganan limbah operasional.
Selain peningkatan jumlah entitas yang mempublikasikan laporan, sebanyak 802 organisasi baru dilaporkan telah menyampaikan komitmen formal untuk segera menerapkan standar TNFD. Lembaga keuangan yang berpartisipasi dalam gelombang komitmen baru ini merepresentasikan dana kelolaan (assets under management) hingga 26,6 triliun dolar AS.
Lonjakan ini sejalan dengan menguatnya tuntutan pelaku pasar agar keterbukaan informasi risiko dan peluang berbasis alam dibuat lebih konsisten, terukur, dan transparan. Laporan berbasis survei terhadap lebih dari 500 pelaku pasar pada Juli-Agustus 2026 tersebut menunjukkan bahwa mayoritas investor dan manajemen perusahaan mendukung adanya regulasi wajib (mandatory reporting) dari pemerintah.
BACA JUGA
- Soroti Hilirisasi Nikel, Ekonom Tegaskan Kebijakan Industri Hijau Membutuhkan Visi Jangka Panjang
- Konservasi Indonesia Siapkan ‘Manta Impact Bond’ Pertama di Dunia
- Indonesia Didesak Benahi Tumpang Tindih Kebijakan Industri Hijau
Lebih dari 70 persen responden survei menyatakan setuju jika pemerintah menetapkan kewajiban pelaporan risiko lingkungan ini dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan, yang diselaraskan dengan target keanekaragaman hayati global PBB (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework).
Bersamaan dengan penerbitan Laporan Status 2026, TNFD merilis panduan resmi khusus untuk sektor teknologi dan komunikasi yang mencakup manufaktur semikonduktor, perangkat keras, pusat data (data center), infrastruktur telekomunikasi, hingga penyedia layanan digital. Sektor-sektor ini disorot akibat tingginya ketergantungan pada sumber daya air bersih dan dampak rantai pasok terhadap ekstraksi lahan serta limbah elektronik (e-waste).
Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sangat masif memicu lonjakan konsumsi air secara dramatis, terutama pada pendinginan infrastruktur pusat data dan fabrikasi chipset.
Senior Advisor Norges Bank Investment Management, Ashley Gorst, menegaskan urgensi transparansi dampak lingkungan tersebut dari perspektif pemodal global.
“Sebagai investor global, kami sangat terbantu oleh laporan transparansi lingkungan yang langsung menyasar pada inti masalah keuangan yang dihadapi perusahaan,” ungkap Ashley Gorst.
Gorst menambahkan bahwa di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, panduan ini menjadi instrumen esensial bagi jajaran manajemen dalam memetakan ketergantungan dan dampak material bisnis terhadap keberlanjutan ekosistem.
