Riset Climate Impact Lab: El Nino Ekstrem Ancam 19.300 Nyawa di Indonesia Akibat Suhu Panas
Jakarta, sustainlifetoday.com – Anomali gelombang panas ekstrem akibat fenomena El Nino kuat yang berlangsung sejak Juni 2026 hingga awal 2027 diproyeksikan memicu krisis kesehatan global tingkat tinggi. Laporan analisis terbaru dari Climate Impact Lab mengestimasikan sebanyak 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia selama periode Juni 2026 hingga Februari 2027 dibandingkan kondisi iklim normal, di mana Indonesia menjadi negara paling terdampak kedua di dunia.
Untuk periode September 2026 hingga Februari 2027 saja, Indonesia diproyeksikan mencatat sekitar 19.300 kematian tambahan akibat suhu panas ekstrem. Angka tersebut menempatkan Indonesia tepat di bawah Nigeria yang memimpin proyeksi global dengan 31.400 kematian. Estimasi ini murni mencakup dampak fatalitas paparan suhu panas, di luar dampak bencana turunan El Nino lainnya seperti kekeringan, karhutla, maupun banjir.
Climate Impact Lab mencatat bahwa suhu daratan global dalam beberapa bulan mendatang akan berada 1,2 Celcius di atas kondisi normal, meningkatkan frekuensi hari dengan suhu ekstrem hingga 44%. Fenomena ini digambarkan sebagai “kartu pos dari masa depan” karena karakteristik panasnya menyerupai kondisi iklim rata-rata yang diproyeksikan terjadi dua dekade mendatang.
Co-founder Climate Impact Lab, Michael Greenstone, menekankan besarnya penderitaan kemanusiaan di balik angka-angka statistik proyeksi krisis iklim ini.
“Kami sudah lama dapat memprediksi dampak suhu terhadap tanaman pangan, dan sekarang kami dapat memprediksi dampaknya terhadap hasil terburuk, yaitu kematian. Hasilnya, kami memperkirakan 451.000 orang dapat meninggal dalam beberapa bulan mendatang akibat El Nino. Angka ini begitu besar sehingga dapat terasa sulit dibayangkan, tetapi angka tersebut terdiri dari orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, orang yang pergi bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan mereka,” kata Greenstone, dikutip dari siaran persnya.
Berdasarkan analisis pemetaan temporal, titik puncak risiko kematian di Indonesia diperkirakan terjadi pada bagian akhir periode proyeksi. Antara Desember 2026 hingga Februari 2027, Indonesia diproyeksikan menghadapi 10.400 kematian akibat panas di atas rata-rata normal. Rentang waktu ini memberikan jendela kesempatan bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk menyiapkan mitigasi darurat.
BACA JUGA
- Soroti Hilirisasi Nikel, Ekonom Tegaskan Kebijakan Industri Hijau Membutuhkan Visi Jangka Panjang
- Konservasi Indonesia Siapkan ‘Manta Impact Bond’ Pertama di Dunia
- Kebakaran Lahan Capsai 589 Hektare, Jalur Pendakian Torean Gunung Rinjani Ditutup Sementara
Faculty Head of Research Climate Impact Lab sekaligus Assistant Professor di University of California, Berkeley, Tamma Carleton, menyerukan pentingnya kesiapan respons darurat sekaligus penyusunan instrumen adaptasi jangka panjang.
“Memperkuat respons darurat dan menargetkan upaya dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini. Namun, 20 tahun dari sekarang, ketika suhu ekstrem seperti yang terjadi saat ini menjadi kondisi normal yang baru, kita tidak ingin terus-menerus berada dalam kondisi darurat,” kata Carleton.
Carleton mengingatkan perlunya alokasi sumber daya mutakhir untuk merancang mitigasi komprehensif, seperti perbaikan sistem peringatan dini gelombang panas (heatwave warning system), perluasan akses teknologi pendingin ramah lingkungan, serta skema perlindungan kerja bagi pekerja di ruang terbuka (outdoor workers).
“Kita perlu mengerahkan sumber daya mulai sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi berbagai perangkat persiapan dan perencanaan yang dapat menyelamatkan nyawa pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
