Bappenas Tegaskan Konservasi Karbon Biru Bukan Substitusi Emisi Karhutla
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah menegaskan bahwa penguatan konservasi ekosistem karbon biru (blue carbon) di wilayah pesisir bertujuan mendongkrak kapasitas penyerapan emisi nasional, bukan untuk mengompensasi lonjakan emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di daratan.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menjelaskan bahwa serapan dari ekosistem pesisir seperti mangrove, rawa payau, dan padang lamun tidak dirancang sebagai pengganti atas emisi yang terlepas dari bencana karhutla.
“Kami berharap karhutla bisa dicegah, tapi pada saat yang sama, kami juga mendorong serapan karbon dioksida yang lebih optimum melalui konservasi ekosistem blue carbon ini,” kata Teguh saat konferensi pers di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Guna mengantisipasi tekanan aktivitas ekonomi dan proyek pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, jalan, dan jembatan terhadap ekosistem pesisir, pemerintah telah menyusun Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Indonesia 2026–2045.
“Apabila misalnya pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, ini ada konsekuensinya terhadap ekosistem mangrove dan lamun, maka ini juga menjadi bagian yang diarahkan melalui peta jalan ini untuk dapat dihindari, dimitigasi risikonya, dan dapat dikelola,” ujar dia.
BACA JUGA
- Presiden Prabowo Sebut Pelaku Karhutla Sebagai Terorisme Ekologi
- Resmi Raih Akreditasi Green Climate Fund, IIF Amankan Akses Pendanaan Iklim 250 Juta Dolar AS
- Sempat Dirawat Intensif, Gajah Sumatera ‘Diego’ Tutup Usia di PLG Minas Riau
Peta jalan tersebut juga mendorong integrasi riset serta penguatan sistem measurement, reporting, and verification (MRV) yang kredibel.
“Artinya kita tahu berapa (area ekosistem pesisir) yang dialihkan, dan ini perlu juga nanti digantikan luasan lahannya,” ujar Teguh, sembari menekankan bahwa prioritas utama tetap pada pencegahan alih fungsi lahan pesisir.
Di sisi lain, pelepasan emisi akibat karhutla terus memicu kekhawatiran pegiat lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengestimasi karhutla di Indonesia telah melepaskan 31 juta ton emisi CO2 sepanjang Januari hingga awal September 2026. Sementara itu, lembaga pemantau Uni Eropa, Copernicus, mencatat estimasi yang lebih tinggi yakni sebesar 65,18 megaton atau setara 239 juta ton CO2.
Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi, Patria Rizky Ananda, mempertanyakan realisasi target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 di tengah tingginya emisi kebakaran lahan.
“Bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink jika pada saat yang sama puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla?” ujar dia.
