SIG Hadirkan Inovasi Semen Hijau dengan Emisi 38 Persen Lebih Rendah
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Upaya menekan angka emisi karbon dalam sektor konstruksi tidak cukup jika hanya bertumpu pada penerapan standar bangunan hijau (green building). Transformasi ini menuntut komitmen yang lebih holistik, termasuk pemilihan material bangunan serta transisi proses produksi yang ramah lingkungan.
Direktur Operasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Reni Wulandari, menegaskan bahwa transisi menuju konstruksi rendah emisi memerlukan perubahan fundamental di sepanjang rantai nilai industri.
“SIG mengambil peranan dengan menghadirkan inovasi produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi dengan bahan baku dan proses yang ramah lingkungan,” kata Reni dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9).
Dalam operasional produksinya, SIG telah mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular secara masif. Perusahaan melakukan substitusi energi dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif yang bersumber dari sampah perkotaan berwujud refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, hingga biomassa.
Langkah dekarbonisasi ini semakin diperkuat dengan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di berbagai fasilitas operasional. SIG mengintegrasikan penggunaan panel surya dan mengoptimalkan panas buang melalui teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk mereduksi konsumsi energi listrik konvensional.
BACA JUGA
- Lewat Program TJSL, Brantas Abipraya Berikan Sertifikasi Kompetensi MSDM Gratis
- Proyeksi PPI dan Suku Bunga AS Jadi Penentu Harga Emas, Ketidakpastian Geopolitik Perkuat Peran Safe Haven
- Dorong Dekarbonisasi Industri Nikel, KLH Perluas Perdagangan Karbon Melalui Skema ETS
Selain efisiensi energi, perusahaan juga menerapkan digitalisasi pabrik (plant digitalization) guna memastikan proses produksi berjalan optimal. Menurut Reni, serangkaian inisiatif hijau tersebut bermuara pada penciptaan produk semen dengan intensitas karbon yang sangat efisien.
“Semen hijau hasil karya SIG lebih ramah lingkungan dengan intensitas emisi lebih rendah hingga 38 persen dibandingkan semen konvensional,” ujarnya.
Guna memperluas adopsi material konstruksi rendah emisi dan mengedukasi prinsip pembangunan berkelanjutan, SIG menjalin kolaborasi strategis bersama Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui ajang Indonesia Green Building Festival 2026. Kampanye ini digelar di lima kota besar, yakni Bandung (9 September), Yogyakarta (14 September), Makassar (24 September), Denpasar (26 September), dan Surabaya (29 September 2026).
