BRIN Kembangkan Rumput Gajah Unggul untuk Hadapi Krisis Iklim dan Keterbatasan Lahan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memelopori pengembangan rumput gajah unggul generasi terbaru melalui inovasi pemuliaan in vitro. Langkah riset ini dinilai sangat strategis di tengah eskalasi tantangan sektor peternakan nasional, mulai dari krisis perubahan iklim, keterbatasan alokasi lahan, serangan hama penyakit, hingga penurunan kualitas daya dukung tanah. Kondisi ekologis tersebut menuntut ketersediaan tanaman pakan yang jauh lebih produktif, kaya nutrisi, adaptif, serta efisien.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa pengembangan tanaman pakan memiliki keterkaitan langsung dengan agenda strategis pembangunan nasional, khususnya dalam memacu kemandirian pangan serta pemenuhan porsi protein hewani. Urgensi ini kian berimpit dengan program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) serta pemenuhan gizi publik melalui Program Makan Bergizi Gratis.
“Kita harus melihat pembangunan peternakan sebagai sebuah rantai yang utuh. Dari rumput yang berkualitas menjadi pakan, dari pakan menghasilkan ternak yang sehat dan produktif, dari ternak menghasilkan susu dan daging, dari susu dan daging menyediakan protein hewani,” ujar Puji dilansir laman BRIN, Minggu (16/8).
Kepala Pusat Riset (PR) Peternakan BRIN, Santoso, menekankan pentingnya komersialisasi dan utilisasi hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium semata. Teknologi pemuliaan varietas unggul wajib diuji, diperbanyak, serta diserap secara langsung oleh para peternak dan pelaku usaha di lapangan.
“Kita ingin membangun jembatan yang kuat antara hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan,” jelasnya.
BACA JUGA
- Gunung Semeru Alami Erupsi di Tengah Pengendalian Karhutla di TNBTS
- Presiden Prabowo: Ekonomi Hijau Harus Ciptakan Nilai Tambah dan Manfaat Bagi Rakyat
- Menkes Budi Rancang Akses Konsultasi Kesehatan Mental Daring untuk Remaja
Santoso menambahkan, pengembangan rumput gajah unggul ini ditinjau secara holistik—mulai dari metode pemuliaan, teknik budi daya, komposisi nutrisi, resiliensi terhadap kondisi iklim ekstrem, hingga potensi integrasinya ke dalam ekosistem usaha peternakan. Masukan dari peternak lokal sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa inovasi ilmiah yang dihasilkan berdaya adopsi tinggi dan tepat guna.
Sementara itu, Peneliti PR Peternakan BRIN, Ali Husni, mengungkapkan bahwa rendahnya produktivitas daging dan susu di tingkat nasional salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pasokan pakan berkualitas yang berkelanjutan, terutama saat tertekan musim kemarau panjang. Akibatnya, ketersediaan pakan menjadi titik krusial (critical point) yang menentukan arah keberlanjutan industri peternakan nasional.
Ali menggarisbawahi bahwa kebutuhan hijauan pakan terus melonjak di tengah kian menyusutnya lahan Budi Daya Tanaman Pakan Ternak (TPT). Metode perbanyakan vegetatif konvensional lewat stek juga menghasilkan keragaman genetik yang relatif rendah serta memakan waktu pemuliaan yang sangat lama.
Untuk mendobrak keterbatasan tersebut, BRIN menerapkan teknologi pemuliaan in vitro sebagai solusi akselerasi perakitan varietas unggul berdaya tahan tinggi melalui teknik kultur jaringan.
“Untuk memecahkan permasalahan tersebut, kultur jaringan menjadi solusi percepatan perakitan varietas unggul melalui pemuliaan in vitro,” ujar Ali.
Pemuliaan in vitro bekerja dengan memanipulasi sel atau jaringan tanaman dalam kondisi steril dan terkendali guna membentuk tanaman baru bermutu tinggi. Melalui teknik unggulan seperti variasi somaklonal, mutagenesis, hingga rekayasa genetika, varietas rumput gajah generasi baru ini dirancang untuk memiliki produktivitas tinggi, kaya protein, tahan terhadap penyakit, serta toleran terhadap iklim marjinal dan kekeringan.
