Menkes Budi Rancang Akses Konsultasi Kesehatan Mental Daring untuk Remaja
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa tingginya persentase gejala kecemasan dan depresi pada peserta didik jenjang SMP dan SMA perlu menjadi perhatian utama dalam penguatan layanan kesehatan jiwa nasional. Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan pentingnya memperkuat deteksi dini kesehatan mental anak dan remaja, terutama melalui ekosistem lingkungan sekolah.
“Masalah mental tinggi di SMA ya Bu, SMP SMA. Kalau SD enggak. Sekarang kelihatan anak-anak sekarang tuh mental health-nya lebih aware,” ujar Budi, Kamis (13/8).
Indikasi masalah kejiwaan tersebut diperoleh melalui instrumen skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Namun, Budi menilai penggunaan istilah medis dalam instrumen skrining masih dapat menjadi kendala bagi anak ketika mengungkapkan kondisi psikologis mereka. Karena itu, Kemenkes berencana menyederhanakan instrumen skrining menggunakan bahasa yang lebih humanis dan mudah dipahami, seperti mengarahkan pertanyaan pada pengalaman keseharian anak tentang kesulitan tidur atau rasa cemas berlebih.
Di sisi lain, Menkes menyoroti keterbatasan jumlah psikolog klinis di tingkat Puskesmas yang pemenuhannya membutuhkan waktu cukup panjang. Sebagai solusi cepat dan inklusif, ia mendorong penguatan kapasitas guru, khususnya wali kelas, agar dibekali kemampuan dasar memberikan pertolongan pertama psikologis kepada siswa.
BACA JUGA
- Indonesia Jadi Negara Pertama di Asia-Pasifik yang Terima Dana Iklim GCF Rp1,85 Triliun
- Perkuat Tata Kelola Pasar Karbon, Kemenhut Rilis Permenhut Nomor 6 Tahun 2026
- Pertamina Foundation Resmikan Pasar Energi Berdikari Berbasis PLTS di Kepandean Serang
“Guru walinya yang diajarkan. Nah nanti kami bisa konsultasi. Guru walinya dikasih P3K Psikologis (Pertolongan Pertama pada Kesehatan Psikologis). Nah itu dibikin modulnya, diajarin aja ke guru-guru wali agar cepat langsung bisa jalan,” ucapnya.
Menurut Budi, wali kelas memiliki peran strategis sebagai pintu utama bagi siswa untuk berkeluh kesah. Melalui pembekalan modul P3K Psikologis, guru diharapkan mampu mengenali gejala awal krisis mental dan memberikan pendampingan awal sebelum mendapatkan penanganan medis profesional.
Selain penguatan kapasitas di sekolah, Kemenkes juga mengkaji penyediaan layanan konsultasi kesehatan jiwa secara daring (online). Inisiatif digital ini dinilai lebih sesuai dengan karakteristik remaja yang cenderung lebih nyaman berkomunikasi melalui platform digital dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan fisik.
“Bikin yang online-online saja agar anak-anak muda ini bisa konsultasi online. Karena mereka lebih suka online daripada kita nyiapin psikolog klinis di Puskesmas bisa 20 tahun itu 10 tahun,” ujar Budi.
