BRIN Dorong Pemanfaatan 3.000 Spesies Tanaman Pangan Lokal Nusantara
Jakarta, sustainlifetoday.com – Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati ekosistem darat yang luar biasa dengan lebih dari 3.000 spesies tumbuhan yang teridentifikasi berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Namun, hingga saat ini baru sekitar 200 spesies yang telah didomestikasi atau dikembangkan secara terstruktur sebagai tanaman pangan budi daya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wawan Sujarwo, menjelaskan bahwa ketimpangan data ini menunjukkan besarnya potensi diversifikasi pangan lokal Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan.
Namun, sebagian besar komoditas pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia secara masif saat ini justru bukan merupakan tanaman asli Nusantara. Komoditas penting seperti jagung, singkong, dan tomat, misalnya, berakar dari kawasan Amerika Latin yang telah melalui proses naturalisasi selama ratusan tahun hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pertanian Indonesia.
“Sebagian besar bahan pangan dan tanaman komersial di Indonesia justru berasal dari negara lain, seperti yang tadi saya ungkapkan jagung, singkong, tomat. Tapi meskipun itu sudah native-nya atau origin-nya bukan merupakan dari kawasan kita, kalau istilah yang sering kita gunakan kan naturalisasi,” ujar Wawan dalam webinar, dilansir Kamis (13/8).
Menurut Wawan, kenyataan tersebut seharusnya menjadi momentum strategis untuk kembali menggali dan mempromosikan potensi tanaman pangan asli Indonesia yang selama ini dikesampingkan.
Secara ekologis, Indonesia menyimpan sekitar 25 persen dari total spesies tumbuhan dunia di atas luas daratan 1,9 juta kilometer persegi dan wilayah laut mencapai 6 juta kilometer persegi. Kekayaan etnobotani ini telah terekam kuat dalam jejak sejarah peradaban Nusantara.
BACA JUGA
- Kasus Penebangan Pohon Ilegal di Bandung Berpotensi Masuk Revisi UU Lingkungan Hidup
- Atasi Kemiskinan Lewat Pendidikan, Kemensos dan 66 Pemda Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat
- Menteri LH dan Menaker Ubah Penyebutan Pemulung Jadi Pekerja Pemilah Sampah
Naskah kuno Jawa seperti Serat Centhini mencatat lebih dari 300 spesies tumbuhan, sementara pahatan relief Candi Borobudur telah mengabadikan berbagai jenis flora pemanfaatan masyarakat masa lalu, salah satunya nyamplung (Calophyllum inophyllum). Dokumentasi komprehensif mengenai kekayaan flora Nusantara ini juga sempat dibukukan oleh naturalis Georg Eberhard Rumphius pada abad ke-17 melalui karya monumental Herbarium Amboinense.
Wawan memaparkan bahwa pemanfaatan potensi tanaman pangan Indonesia harus disesuaikan dengan karakteristik geografis, tipe tanah, serta mikroiklim spesifik di setiap pulau. Kawasan Jawa dan Sumatra berpotensi unggul pada komoditas padi, sayuran, dan rempah-rempah; Papua memiliki keanekaragaman umbi-umbian serta sagu sebagai sumber karbohidrat utama; sedangkan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cenderung kering sangat potensial untuk pengembangan sorgum dan tanaman pangan berdaya tahan tinggi terhadap kekeringan. Adapun Kalimantan dan Sulawesi kaya akan potensi padi ladang, rotan, bambu, serta buah-buahan hutan.
“Indonesia merupakan bagian dari kawasan yang menjadi tempat awal domestikasi padi bersama dengan negara tetangga-tetangga kita sebenarnya. Seperti yang tadi saya ungkapkan bahwa sebenarnya kita masih masuk dalam satu area persebaran untuk center of origin-nya,” tutur Wawan.
Pendekatan adaptasi pangan berbasis biogeografi wilayah ini dinilai menjadi strategi krusial untuk memperkuat kedaulatan serta keragaman sumber pangan nasional. Pemanfaatan sumber pangan yang lebih beragam dan inklusif sangat penting untuk mereduksi risiko ketergantungan pada beberapa komoditas tunggal di tengah ancaman krisis iklim global.
