Hadapi Rekor Tertinggi El Nino, Sekjen PBB Paksa Dunia Lakukan Empat Mitigasi Darurat
Jakarta, sustainlifetoday.com – Fenomena iklim El Niño yang diprediksi makin menguat dan berpotensi memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa dinilai ibarat menyiram bensin ke planet yang sudah terbakar. Kondisi ekstrem ini membawa dunia memasuki wilayah krisis ekologis yang belum pernah terjamah sebelumnya.
Peringatan keras tersebut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres.
“Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Niño sudah di ambang pintu. Sekarang ia sudah masuk ke dalam rumah dan makin menaikkan suhunya,” katanya dikutip dari Phys, Selasa (4/8).
Secara alamiah, pola cuaca El Niño menghangatkan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Hal ini memicu perubahan angin, tekanan udara, dan pola curah hujan secara global. Parahnya, perubahan iklim akibat aktivitas manusia kian memperburuk dampak El Niño. Lautan dan udara yang makin panas menyediakan energi serta kelembapan berlebih yang memicu cuaca ekstrem berskala destruktif.
“Kita telah melewati musim panas dengan cuaca yang sangat ekstrem, rekor gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini berakibat pada kebakaran hutan mengerikan yang melalap Spanyol, Prancis, dan wilayah lainnya serta ribuan nyawa melayang akibat kondisi yang sangat menyengat,” kata Guterres.
“Namun, menurut data ilmiah terbaru, ini semua barulah pemanasan,” paparnya lagi.
BACA JUGA
- Penurunan Populasi Ikan Kakatua Ancam Keberlanjutan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia
- BRIN Luncurkan Inovasi BioReKarst 3S yang Bisa Pulihkan Lahan Pascatambang
- Dukung Tata Kelola Transparan, Kemenhut Integrasikan Izin Peredaran Satwa Lewat PeSATS
Kekhawatiran tersebut beralasan, mengingat suhu air di Samudra Pasifik yang memicu El Niño belum pernah sepanas ini di awal musim. Merujuk pada prakiraan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan laut saat ini tercatat rata-rata 3 derajat Celsius lebih tinggi dari batas normal. WMO memprediksi bahwa hingga bulan Oktober mendatang, hampir seluruh wilayah daratan di Bumi akan mengalami suhu yang lebih panas dari biasanya.
“Jika digabungkan, semua kondisi ini berisiko memecahkan setiap rekor musim yang ada serta memicu dampak yang jauh lebih parah di seluruh dunia. Kita sedang berada di wilayah yang belum pernah kita jalani sebelumnya,” kata Guterres.
Risiko yang mengintai tidak hanya sebatas anomali udara panas. Musim hujan di India saat ini terpantau jauh di bawah rata-rata. Sementara itu, kondisi yang lebih panas dan kering diperkirakan akan menyapu wilayah Amerika Tengah, Karibia, sebagian Amerika Selatan, Asia Selatan, Pasifik Barat Daya, Eropa, hingga Benua Afrika.
“Kesimpulannya sudah jelas. Krisis iklim kini melaju makin kencang,” tegas Guterres, Ia pun memaparkan langkah-langkah yang perlu diambil di empat bidang utama.
Guna menghadapi ancaman global tersebut, Guterres mendesak seluruh negara untuk segera mengeksekusi empat langkah mitigasi fundamental.
Pertama yaitu menerapkan rencana penanganan panas di tingkat kota dan nasional, membangun sistem peringatan dini yang tangguh, serta memperluas akses ke teknologi pendingin ruangan yang ramah lingkungan.
Kedua, Pemerintah harus menetapkan aturan batas suhu panas agar para pekerja rentan, seperti pekerja di industri tekstil, tidak mempertaruhkan nyawa mereka saat bekerja di bawah cuaca ekstrem.
Ketiga yaitu membangun perlindungan dari cuaca panas ekstrem ke dalam tata desain kota, rumah, sekolah, dan rumah sakit, serta mengintegrasikan inisiatif ini ke dalam perencanaan dan anggaran resmi pemerintah.
Keempat, dunia harus berhenti memperparah krisis ini dengan menekan penggunaan bahan bakar fosil secara drastis, dan berhenti menganggap setiap rentetan bencana iklim sebagai kejadian biasa yang berdiri sendiri.
