Muhammadiyah Dorong Penyelamatan Lingkungan Jadi Standar Baru Keberhasilan Dakwah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendesak seluruh jajaran Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah (PCM dan PRM) untuk menjadikan aksi nyata pelestarian lingkungan sebagai bentuk implementasi nilai Islam rahmatan lil alamin.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas rendahnya tingkat kepedulian terhadap kelestarian ekosistem di Indonesia.
Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyoroti adanya ketimpangan kesadaran ekologis antara masyarakat domestik dengan dunia internasional.
Gerakan restorasi dan reboisasi masif yang jamak dilakukan di luar negeri kerap bertolak belakang dengan realitas kerusakan alam di dalam negeri.
“Ketika bangsa lain melestarikan alam semesta ini dengan baik, kita justru merusak, menghancurkan secara semena-mena, bahkan di luar adab,” kata Dahlan Rais dikutip laman Muhammadiyah, Senin (20/7).
Merespons krisis ekologis tersebut, Dahlan mendorong adanya pembaruan paradigma dakwah di tingkat akar rumput. Ia menginstruksikan agar program pelestarian kelestarian alam dan lingkungan hidup dimasukkan sebagai tolok ukur evaluasi kinerja organisasi.
BACA JUGA
- DPR Minta Sektor Swasta dan Pemerintah Daerah Bersinergi Tekan Risiko Karhutla
- DPR Kawal Ketat Implementasi SRUK Demi Tata Kelola Pasar Karbon yang Transparan dan Kredibel
- Program Public Transportation Day ADHI Sukses Pangkas Emisi Karbon Hingga 89 Persen
“Saya mengusulkan tambah satu indikator, bagaimana Cabang dan Ranting itu menyikapi alam semesta ini. Ini akan sangat baik kalau dijadikan salah satu standar ukuran keberhasilan atau pencapaian kinerja Cabang dan Ranting,” usulnya.
Melalui pemanfaatan jaringan akar rumput Muhammadiyah yang masif, kampanye dan aksi penyelamatan ekosistem diharapkan dapat terkelola secara lebih solid.
Manuver ini dinilai tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen diplomasi sosial untuk mengejar ketertinggalan agenda dakwah Islam dalam merespons isu-isu keberlanjutan.
Dahlan menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup bukan sekadar problem sosial belaka, melainkan memiliki dimensi teologis yang kuat. Setiap manusia, khususnya umat Islam, pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban mutlak oleh Sang Pencipta atas perlakuan mereka terhadap bumi.
