Sampah Plastik Berpotensi Jadi BBM Terbarukan, Regulasi Sedang Disiapkan Pemerintah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah tengah menyiapkan regulasi sebagai payung hukum pemanfaatan sampah, khususnya sampah plastik, menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbarukan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pengelolaan sampah yang lebih bernilai sekaligus mendukung transisi energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan regulasi tersebut ditargetkan segera terbit dan akan mengakomodasi penjualan BBM terbarukan hasil olahan sampah melalui skema business-to-business (B2B).
“Jadi karena BBM naik harganya, nanti sampah plastik itu bisa dimanfaatkan menjadi BBM terbarukan,” kata Eniya dalam Ministerial Dialogue on Climate Change di Invirotech 2026, Jakarta dikutip Jumat (12/6).
Salah satu lokasi yang direncanakan menjadi pusat pengembangan proyek tersebut adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya. Saat ini, TPA Benowo telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan tengah mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar.
Fasilitas tersebut akan memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar yang memiliki karakteristik setara minyak diesel atau solar. Proses pengolahan juga dilengkapi sistem pengolahan gas buang (flue gas treatment system) guna memastikan emisi yang dihasilkan memenuhi standar lingkungan yang berlaku.
BACA JUGA
- Pengadaan Motor Listrik Program MBG Tetap Berlanjut Meski Disorot Dugaan Markup
- Perubahan Iklim Gerus Produktivitas Petani Indonesia, Jam Kerja Hilang Terus Meningkat
- Implementasi B50 Berpotensi Tekan Ekspor CPO, Produktivitas Sawit Jadi Kunci
Menurut Eniya, pengembangan energi berbasis sampah menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi beban sampah yang terus meningkat di berbagai daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Eniya juga menyoroti kontribusi besar sektor energi, termasuk transportasi, terhadap emisi gas rumah kaca nasional. Oleh karena itu, percepatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung target penurunan emisi Indonesia.
Selain transisi energi, ia mengingatkan pentingnya efisiensi energi di tingkat rumah tangga melalui penggunaan peralatan elektronik yang hemat energi.
“Kalau beli kulkas, AC, kompor listrik, kipas angin, itu semua harus green five star. Label bintang lima menunjukkan alat itu efisien,” ujarnya.
Pengembangan BBM terbarukan berbasis sampah dinilai dapat memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi timbulan sampah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus menghasilkan sumber energi alternatif yang mendukung agenda ekonomi sirkular dan keberlanjutan energi nasional.
