Menteri LH: Generasi Tua Punya Utang Lingkungan kepada Gen Z dan Gen Alpha
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa generasi tua memiliki tanggung jawab besar untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang telah terjadi selama puluhan tahun. Menurutnya, krisis iklim dan degradasi lingkungan saat ini merupakan warisan yang harus segera dipulihkan demi masa depan Generasi Z dan Generasi Alpha.
Pernyataan tersebut disampaikan Jumhur saat membuka Indonesia International Environmental Technology and Innovation Expo and Conference (INVIROTECH) 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jakarta, Kamis (11/6).
Dalam kesempatan itu, Jumhur menilai generasi muda justru memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap isu lingkungan dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, ia menyebut Generasi Z berhak menuntut lingkungan yang lebih baik untuk masa depan mereka.
“Satu hari saya ditanya wartawan, bagaimana pesan Bapak kepada Generasi Z terhadap kelestarian lingkungan? Saya bilang pertanyaannya salah. Yang benar justru Generasi Z lebih peduli lingkungan daripada kita-kita yang generasi tua,” kata Jumhur.
Menurutnya, berbagai survei menunjukkan mayoritas Generasi Z di Indonesia memiliki perhatian besar terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa generasi muda semakin menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan bumi.
BACA JUGA
- Pertamina dan ITS Luncurkan Kapal Pembersih Sampah Berbasis AI untuk Perairan Indonesia
- Indonesia Raih Hibah Rp250 Miliar untuk Lindungi Habitat Satwa dan Hutan Sumatra
- Kenaikan Harga Pertamax Persempit Ruang Finansial Masyarakat Kelas Menengah
Jumhur juga mengakui bahwa generasinya turut berkontribusi terhadap berbagai persoalan lingkungan yang saat ini dihadapi dunia, mulai dari peningkatan emisi gas rumah kaca hingga pemanasan global.
“Sesungguhnya yang membuat dunia ini menjadi panas adalah generasi-generasi kami. Efek rumah kaca tampil di mana-mana. Sekarang kita masih hidup dan harus bekerja keras untuk meng-offset semua yang dihasilkan sebagai emisi untuk diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa generasi tua memiliki utang ekologis yang harus dibayar melalui berbagai upaya pemulihan lingkungan, termasuk restorasi ekosistem, pengurangan emisi, serta perubahan pola pembangunan yang lebih berkelanjutan.
“Jadi sekali lagi, kita punya utang. Kita harus bekerja keras agar generasi muda kita, Gen Z kita, selamat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jumhur mengingatkan bahwa krisis lingkungan saat ini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah dirasakan secara nyata melalui pencemaran air, udara, dan tanah, peningkatan suhu bumi, kerusakan hutan, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan apa yang disebutnya sebagai tobat ekologis, yakni upaya bersama memulihkan lingkungan sekaligus mengubah perilaku agar lebih ramah terhadap alam.
“Saya mengajak kita semua, termasuk pemerintah, dunia usaha, BUMN, para intelektual, semuanya kita bertobat. Bertobat secara ekologis dengan memulihkan lingkungan yang sudah rusak dan tercemar serta berkomitmen untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama,” katanya.
Menurut Jumhur, keberhasilan menjaga lingkungan hidup tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada lahirnya budaya baru yang menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari peradaban bangsa.
Menutup sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menentukan arah masa depan lingkungan Indonesia.
“Kalian adalah generasi yang akan hidup paling lama dengan konsekuensi dari keputusan kita hari ini. Karena itu suara kalian penting, gagasan kalian penting, dan kepemimpinan kalian penting,” ujarnya.
