BMKG: 28,6 Persen Wilayah Indonesia Masuki Musim Kemarau
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 28,6 persen wilayah zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya Hari Tanpa Hujan (HTH) di wilayah Indonesia bagian selatan yang berlangsung selama 21–30 hari.
“Kondisi kering mulai berkembang lebih konsisten, seiring dengan meningkatnya pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari Australia menuju wilayah Indonesia bagian selatan,” kata BMKG dalam keterangannya, Selasa (9/6).
BMKG menjelaskan, dominasi massa udara kering menyebabkan kelembapan udara berkurang sehingga pembentukan awan menjadi lebih terbatas, terutama pada pagi hingga siang hari.
Pada periode 4–7 Juni 2026, suhu udara di atas 35 derajat Celsius tercatat terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, hingga Papua Barat.
BACA JUGA
- Ilmuwan Kembangkan Teknologi Daur Ulang Plastik Campuran yang Ramah Lingkungan
- UMS Perkuat Gerakan Zero Waste dan Hemat Energi untuk Wujudkan Kampus Berkelanjutan
- Pulau Sampah Viral, DPRD Dorong Solusi Jangka Panjang Atasi Krisis Sampah Pesisir
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan akan sepenuhnya berhenti.
“Meskipun perkembangan musim kemarau mulai terlihat di sebagian wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih teramati di sejumlah wilayah,” ujar BMKG.
Menurut BMKG, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dalam sepekan ke depan diperkirakan berada pada fase 8 hingga 1 atau bergerak di wilayah Belahan Barat hingga Afrika sehingga dampaknya terhadap cuaca di Indonesia relatif kecil. Namun, aktivitas konvektif MJO masih berpotensi memicu pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Papua, terutama bagian selatan hingga tengah.
Selain itu, gelombang Kelvin diperkirakan melintasi sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprediksi aktif di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa yang dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.
BMKG turut memantau sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias. Fenomena tersebut berpotensi membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin yang memperkuat pertumbuhan awan hujan di Papua, Kepulauan Nias, sebagian Sumatra Barat, hingga Riau.
BMKG memperkirakan hujan ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode 9–11 Juni 2026 dan berlanjut hingga 12–15 Juni 2026 di sejumlah daerah.
“Menghadapi potensi cuaca signifikan yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi,” papar BMKG.
Sementara itu, masyarakat yang berada di wilayah yang telah memasuki musim kemarau maupun masa peralihan musim diimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan serta menjaga kecukupan cairan tubuh guna menghindari dampak cuaca panas.
