Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PBB Soroti Urgensi Aksi Iklim Global
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap 5 Juni di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan berbagai negara.
Peringatan ini pertama kali digagas oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan kini menjadi salah satu platform global terbesar untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. Setiap tahunnya, jutaan orang, ribuan organisasi, dan pemerintah dari lebih dari 150 negara terlibat dalam berbagai kampanye dan aksi lingkungan.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan World Environment Day, tanggal 5 Juni ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 1972 dan mulai diperingati secara resmi pada 1973 dengan slogan “Only One Earth” atau “Hanya Satu Bumi”.
Seiring berjalannya waktu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia berkembang menjadi wadah global untuk mengangkat berbagai isu lingkungan, mulai dari polusi udara, polusi plastik, perdagangan satwa liar ilegal, konsumsi berkelanjutan, kenaikan muka air laut, krisis air bersih, hingga ketahanan pangan.
“Planet ini tidak berdebat. Ia tidak bernegosiasi. Ia mengirimkan sinyal naiknya permukaan laut, kebakaran hutan yang dahsyat, gelombang panas, mencairnya gletser. Kami mengatakan 1,5 derajat Celsius adalah batasnya. Kita telah melampauinya,” demikian pernyataan laman tersebut.
PBB menilai dunia selama bertahun-tahun telah dihadapkan pada berbagai peringatan iklim, target pengurangan emisi, dan tenggat waktu aksi lingkungan. Namun, berbagai upaya tersebut kerap terhambat oleh penundaan, pengalihan perhatian, maupun penyangkalan terhadap krisis iklim.
Di sisi lain, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat melalui meningkatnya penggunaan energi terbarukan, pembangunan kota yang lebih ramah lingkungan, rehabilitasi hutan, serta berbagai solusi iklim yang terus berkembang di berbagai belahan dunia.
BACA JUGA
- BMKG: Hampir 29 Persen Wilayah Indonesia Masuki Musim Kemarau
- Pengajuan Status Darurat Sampah Ditolak, Pemkot Bandung Siapkan Berbagai Solusi Baru
- Perkuat Kepedulian Sosial, Bank Mandiri Gelar Donor Darah di Seluruh Indonesia
Menurut PBB, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi penting karena bumi saat ini menunjukkan berbagai tanda krisis lingkungan melalui rekor suhu global, kebakaran hutan yang semakin intens, cuaca ekstrem, hingga pencairan gletser yang berlangsung lebih cepat.
Upaya menjaga kenaikan suhu global tetap berada di bawah 1,5 derajat Celsius dinilai masih menjadi target penting untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim. Meski demikian, berbagai pihak juga melihat adanya peningkatan aksi kolektif dari masyarakat, generasi muda, pemerintah, dan sektor swasta dalam mendorong solusi berkelanjutan.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengusung pesan bahwa peluang untuk memperbaiki kondisi lingkungan masih terbuka jika aksi nyata terus diperkuat.
Republik Azerbaijan ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan fokus utama pada isu perubahan iklim. Berbagai kegiatan, kampanye, dan aksi lingkungan akan digelar di berbagai negara sebagai bagian dari peringatan global tersebut.
Sebagai negara peserta Perjanjian Paris, Azerbaijan menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 40 persen pada 2035 dibandingkan tingkat emisi tahun 1990. Negara tersebut juga menargetkan porsi energi terbarukan mencapai 30 persen pada 2030.
Sejumlah proyek energi bersih tengah dikembangkan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Garadagh berkapasitas 230 MW dan proyek Ladang Angin Khizi-Absheron berkapasitas 240 MW. Selain itu, Azerbaijan juga mengembangkan berbagai proyek energi terbarukan lain dengan total kapasitas lebih dari 1 GW.
Pemerintah Azerbaijan juga memperkuat berbagai kebijakan keberlanjutan melalui pengembangan transportasi rendah emisi, infrastruktur kendaraan listrik, pengelolaan air yang lebih efisien, pertanian adaptif terhadap perubahan iklim, hingga kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya negara tersebut dalam mendukung transisi menuju pembangunan rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
