BRIN Ungkap 1.538 Spesies Baru di Indonesia dalam Enam Dekade Terakhir
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat penemuan 1.538 spesies baru di Indonesia sepanjang 1967–2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 712 spesies merupakan flora atau tumbuhan, mulai dari rafflesia, begonia, homalomena, rhododendron, nepenthes, hingga berbagai jenis anggrek.
Temuan tersebut menunjukkan Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang sangat besar, sekaligus menegaskan pentingnya upaya konservasi di tengah berbagai tekanan terhadap ekosistem alami.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria mengatakan penemuan spesies baru memiliki arti penting tidak hanya bagi dunia ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi upaya menjaga kekayaan hayati Indonesia.
“Setiap spesies baru yang ditemukan adalah pengetahuan baru bagi dunia sekaligus pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa yang harus dijaga bersama,” kata Arif dalam acara pengenalan spesies baru, dikutip dari situs BRIN, Selasa (2/6).
Menurut Arif, temuan BRIN bersama para mitra riset menunjukkan masih banyak potensi biodiversitas Indonesia yang belum terungkap. Sepanjang 2025 hingga awal 2026 saja, sedikitnya 29 jenis flora baru berhasil dideskripsikan secara ilmiah.
BACA JUGA
- Menag: Nonmuslim Juga Berhak Menerima Daging Kurban Iduladha
- Iduladha 2026, BNI Salurkan 1.200 Hewan Kurban di Berbagai Daerah
- DPRD DKI Minta Penanganan Sampah Jakarta Tak Hanya Andalkan PSEL
Namun, proses menemukan dan mengidentifikasi spesies baru bukan pekerjaan sederhana. Peneliti harus melalui tahapan panjang, mulai dari ekspedisi ke kawasan hutan dan wilayah terpencil, pengumpulan spesimen, analisis morfologi dan molekuler, hingga publikasi ilmiah untuk memperoleh pengakuan global.
“Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama,” ucap dia.
Di sisi lain, upaya eksplorasi biodiversitas kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan menjadi ancaman bagi keberlangsungan berbagai spesies.
Kondisi tersebut berisiko menyebabkan sejumlah spesies punah bahkan sebelum sempat dikenali dan didokumentasikan secara ilmiah.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Prima W. Hutabarat, mengatakan Indonesia masih menyimpan banyak spesies yang belum teridentifikasi, termasuk di kawasan pegunungan Sulawesi Tengah.
Namun, eksplorasi biodiversitas kerap terhambat oleh kerusakan habitat yang terjadi akibat aktivitas manusia.
“Mulai dari medan yang berat hingga ancaman kerusakan habitat akibat aktivitas manusia,” kata dia.
Menurut Prima, pembukaan akses jalan sering kali diikuti aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan maupun penambangan, sehingga habitat alami berbagai spesies mengalami kerusakan sebelum penelitian dapat diselesaikan.
“Beberapa habitat spesies baru bahkan hilang akibat dibakar atau diubah sebelum proses penelitian selesai dilakukan,” ucap Prima.
Selain memiliki nilai ilmiah dan konservasi, sejumlah spesies tumbuhan baru juga memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Muhammad Rifqi Hariri menyebut beberapa tanaman yang telah dideskripsikan secara ilmiah diminati pasar internasional sebagai tanaman hias, paludarium, maupun aquascape.
“Beberapa spesimen sudah banyak dijual di Amerika dan Jepang. Bahkan tanaman berukuran kecil bahkan dapat mencapai sekitar US$20 per pot (sekitar Rp 357 ribu) di pasar internasional,” kata dia.
Meski demikian, Rifqi menegaskan bahwa pemanfaatan ekonomi dari kekayaan biodiversitas harus tetap dibarengi dengan upaya perlindungan habitat agar keberlanjutan spesies dapat terjaga untuk jangka panjang.
