Harita Nickel Catat Penghindaran Emisi 977 Ribu Ton CO2e pada Kuartal I 2026
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel mencatat penghindaran emisi karbon sebesar 977.278 ton CO2e pada kuartal I 2026. Angka tersebut meningkat 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring optimalisasi berbagai strategi efisiensi energi dan pengurangan emisi di fasilitas operasional perusahaan.
Penghindaran emisi tersebut didorong oleh pemanfaatan kembali panas buang (waste heat recovery), penggunaan biosolar, serta penerapan teknologi gasifikasi batu bara dalam operasional perusahaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari target Harita Nickel untuk mencapai net zero emission pada 2060. Perusahaan juga terus mengembangkan sejumlah infrastruktur energi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi karbon.
Beberapa proyek yang sedang dikembangkan antara lain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp, pembangkit listrik berbasis panas buang dari fasilitas HPAL berkapasitas 50 MWp, serta penerapan Energy Management System yang mengacu pada standar ISO 50001.
Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali, mengatakan perusahaan tetap fokus menjaga efisiensi operasional dan daya saing jangka panjang di tengah dinamika industri nikel global.
“Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan, fokus kami adalah tetap menjaga operasional tetap berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab. Integrasi dari penambangan hingga pengolahan membantu Perseroan mengelola produktivitas dan efektivitas operasional secara lebih baik, dengan tetap memperhatikan tata kelola serta keberlanjutan usaha jangka panjang,” ujar Lukito dalam siaran pers, Jumat (29/5).
Selain memperkuat efisiensi energi, Harita Nickel juga tengah menjalani tahapan corrective action dalam evaluasi standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Perusahaan juga bersiap mengikuti audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP) Module sebagai bagian dari penguatan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
BACA JUGA
- Industri Stainless Steel Dinilai Punya Potensi Ekonomi Sirkular
- Menag: Masjid Istiqlal akan Terapkan Sistem Kurban Higienis dan Ramah Lingkungan
- INDEF: Hilirisasi Nikel Tak Bisa Hanya Bertumpu pada Industri Baterai EV
Sepanjang 2025, Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp29,63 triliun. Sementara pada kuartal I 2026, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp6,81 triliun.
“Di tengah dinamika industri yang terus berkembang dan semakin menantang, perusahaan akan tetap berfokus pada efisiensi, optimalisasi operasional, dan penguatan daya saing jangka panjang,” kata Lukito.
