INDEF: Hilirisasi Nikel Tak Bisa Hanya Bertumpu pada Industri Baterai EV
Jakarta, sustainlifetoday.com – Sejumlah lembaga kajian di bidang ekonomi dan transisi energi menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan hilirisasi nikel melalui industri baja tahan karat atau stainless steel. Pemerintah pun dinilai tidak perlu terlalu berfokus pada hilirisasi nikel untuk industri baterai dan kendaraan listrik semata.
Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, mengatakan industri nikel Indonesia saat ini cukup kompetitif pada sektor hulu dan menengah (midstream), namun masih lemah pada sektor hilir atau manufaktur produk akhir.
“Produk-produk yang dibutuhkan untuk memproduksi baterai EV relatif jauh dari kapabilitas kita saat ini,” kata dia dalam diskusi publik di Jakarta dikutip pada Selasa (26/5).
Menurut Imaduddin, rantai pasok global komponen baterai dan kendaraan listrik masih sangat terkonsentrasi dan dikuasai pemain besar dunia. Sementara itu, pengembangan industri tersebut di dalam negeri membutuhkan modal besar, standar kualitas tinggi, dan kapasitas produksi berskala besar.
BACA JUGA
- Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara pada 30 Mei–2 Juni 2026
- Indonesia Nomor Satu Mega Biodiversitas, Menteri LH Tegaskan Kekayaan Hayati Darat dan Laut Tak Tertandingi
- Minim Ahli Lingkungan di Kaltara, UBT Siap Buka Prodi Ilmu Lingkungan
Karena itu, ia menilai pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik memang tetap strategis, tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya arah hilirisasi nikel nasional.
“Perlu dikembangkan bertahap ya, demand creation yang mungkin dari beberapa program pemerintah, maupun penguatan pasar domestik,” ujarnya.
Ia menambahkan, rencana pemerintah memberikan insentif penggunaan baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) pada kendaraan listrik dapat membantu mendorong permintaan sekaligus memperkuat industri baterai dalam negeri.
Meski demikian, peluang pengembangan industri stainless steel dan manufaktur lanjutan berbasis nikel juga dinilai perlu diperkuat agar hilirisasi mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.
