Porseni KAI 2026 Jadi Panggung Budaya Keberlanjutan dan Ekonomi Sirkular
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjadikan gelaran Pekan Olahraga Kereta Api (PORKA) atau Porseni 2026 sebagai ajang pembuktian penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) di lingkungan internal perusahaan. Tidak sekadar mengadu ketangkasan ribuan karyawan di sembilan cabang olahraga dan seni, perhelatan antarkaryawan dari berbagai Daerah Operasi (Daop), Divisi Regional (Divre), hingga Anak Perusahaan ini sengaja dirancang untuk menanamkan budaya ramah lingkungan secara nyata.
Mengusung tema “Spirit Competition, Power of Sustainability”, Porseni tahun ini mempertandingkan basket, futsal, sepak bola, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, catur, dan e-sport Mobile Legends, serta kompetisi seni band dan tari tradisional.
Vice President of Sustainability PT KAI, Tria Mutiari Meilan, menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai keberlanjutan lewat panggung olahraga dan seni merupakan langkah strategis untuk menjadikan prinsip ramah lingkungan sebagai bagian dari budaya kerja perusahaan.
“Melalui Porseni, kami ingin menunjukkan bahwa sustainability bukan hanya menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan, tetapi juga menjadi budaya yang diterapkan dalam setiap aktivitas KAI Group,” ujar Tria kepada SustainLife Today, Jumat (17/7).
Untuk memastikan agenda keberlanjutan ini tidak berhenti di level konsep, PT KAI menghadirkan booth sustainability di area acara sebagai pusat edukasi sekaligus aksi lingkungan.
KAI membuka posko pengumpulan seragam resmi yang sudah tidak terpakai dari para kontingen di booth tersebut. Seragam-seragam ini tidak dibiarkan menumpuk menjadi limbah tekstil, melainkan diproses melalui metode upcycling agar berubah menjadi produk baru bernilai guna tinggi.
“Salah satu program utama yang dihadirkan adalah pengumpulan seragam resmi yang sudah tidak terpakai dari peserta kontingen. Seragam tersebut selanjutnya akan diolah kembali menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna melalui konsep upcycling, sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular dan upaya mengurangi limbah tekstil di lingkungan perusahaan,” papar Tria menjelaskan rincian program tersebut.

Lewat pendekatan ini, KAI ingin memperlihatkan kepada seluruh karyawannya bahwa material bekas sekalipun bisa memiliki nilai manfaat baru jika dikelola secara bertanggung jawab.
“Harapannya, setiap peserta tidak hanya memahami pentingnya sustainability, tetapi juga terdorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kerja,” tambahnya.
BACA JUGA
- KKP Percepat Pengembangan Ekosistem Karbon Biru dan Investasi Kelautan
- Viral Wisatawan China Buang Sampah Sembarangan di Pulau Padar, Ini Aturan Hukumnya
- Tindak Lanjuti Arahan Presiden, Kemenhut akan Rekrut 23 Ribu Polisi Hutan
Selama kompetisi berlangsung, KAI menerapkan aturan bebas sampah sekali pakai. Seluruh kontingen dan peserta diwajibkan membawa tumbler serta menggunakan alat makan yang dapat dicuci ulang (reusable).
Selain itu, jejak ekologis dari acara ini diperluas ke lingkungan sekitar melalui penanaman 25 pohon produktif di Balai Yasa Yogyakarta. Pohon-pohon seperti mangga, mundu, duku, nangka, dan sawo beludru dipilih untuk memperluas area hijau sekaligus mendongkrak penyerapan karbon di fasilitas perawatan kereta api tersebut.
Aksi penanaman ini menambah daftar panjang komitmen reforestasi yang terus dieksekusi KAI. Hingga 13 Juli 2026, PT KAI tercatat telah menanam sebanyak 99.785 pohon sejak tahun 2022, di mana 4.540 pohon di antaranya ditanam sepanjang tahun 2026 dengan menyesuaikan karakteristik lingkungan di masing-masing wilayah operasional.
Langkah ini melengkapi agenda besar transformasi hijau yang sedang dikejar KAI, mulai dari efisiensi energi pengoperasian kereta, pengelolaan limbah terpadu, hingga upaya pemangkasan emisi gas rumah kaca (GRK).
“Bagi PT KAI, sustainability bukan sekadar program, melainkan bagian dari budaya perusahaan dalam menjalankan bisnis yang bertanggung jawab. Semangat keberlanjutan perlu hadir dalam cara bekerja, menggunakan energi secara efisien, mengelola material, berinovasi, serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” tegas Tria.
Lewat penggabungan antara kompetisi olahraga, seni, dan aksi penyelamatan lingkungan ini, PT KAI menaruh target yang jauh lebih besar dari sekadar suksesnya penyelenggaraan acara. KAI berharap ribuan pegawainya yang hadir bisa pulang ke daerah asalnya masing-masing dengan membawa pola pikir baru.
“Kami berharap semangat yang dibangun melalui Porseni tidak berhenti selama penyelenggaraan acara, tetapi dapat terus dibawa ke lingkungan kerja, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, seluruh insan KAI Group dapat menjadi agen perubahan yang menginspirasi semakin banyak orang untuk bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkas Tria.
