Pengguna BBM Subsidi Melonjak Usai Harga Non-Subsidi Naik, Ini Strategi Pertamina
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi dengan kualitas oktan lebih rendah. Fenomena ini disebut terjadi tanpa diikuti penurunan konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida mengatakan sebagian konsumen memilih menurunkan jenis BBM yang digunakan akibat kenaikan harga BBM non-subsidi.
“Dampak yang mungkin tidak semua orang menyangka adalah masyarakat men-switch mobilnya, yang tadinya hanya mau dengan jenis BBM non-subsidi, sekarang merelakan mau memakai BBM subsidi,” ujar Tenny dikutip Rabu (13/5).
Menurutnya, kenaikan harga BBM non-subsidi tidak otomatis membuat konsumsi energi turun. Sebaliknya, sebagian pemilik kendaraan memilih beralih ke BBM dengan harga lebih murah meski memiliki angka oktan lebih rendah.
“Faktanya memang tidak ada perubahan konsumsi. Yang tadinya memakai Pertadex, sekarang menurunkan standar,” kata Tenny.
Ia menyebut hampir satu juta pengguna baru telah mendaftarkan akun MyPertamina untuk memperoleh akses pembelian BBM subsidi.
Kenaikan harga BBM non-subsidi terjadi dua kali dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, seiring naiknya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
BACA JUGA
- Tarif Royalti Tambang Resmi Naik Juni 2026, Menkeu Purbaya: Berlaku untuk Semua Komoditas
- Pemerintah Targetkan Pengelola Baru Bandung Zoo Terpilih Akhir Mei 2026
- Dalam Forum PBB, Indonesia Laporkan Penurunan Karhutla hingga 86 Persen
Jika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berlangsung lebih dari enam bulan, tekanan terhadap harga energi domestik diperkirakan semakin meningkat.
Kenaikan harga minyak mentah global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya operasional disebut dapat memengaruhi kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Meski demikian, konsumsi bahan bakar disebut masih tinggi. Hal tersebut tercermin dari kepadatan lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang tetap terjadi.
Di tengah meningkatnya perpindahan konsumen ke BBM subsidi, Pertamina saat ini tengah mengkaji pembatasan volume pembelian BBM subsidi per konsumen.
“Kami sedang mengkaji pembatasan jumlah BBM subsidi untuk setiap konsumen,” ujarnya.
Untuk memperkuat ketahanan energi nasional, Pertamina disebut telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah, termasuk meningkatkan pasokan dari Afrika dan Amerika Serikat meski kawasan Timur Tengah masih menjadi pemasok utama.
Selain itu, perusahaan juga menambah fasilitas floating storage dan meningkatkan fleksibilitas operasi kilang untuk mendukung produksi bahan bakar sesuai kebutuhan pasar domestik.
Di sisi lain, Pertamina terus mengembangkan bahan bakar berkelanjutan seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur.
Menurut Tenny, perusahaan saat ini tengah menyiapkan campuran minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) sebesar 1 hingga 3 persen dalam komposisi SAF.
“Kalau berhasil, komposisi SAF memang masih didominasi 97 persen bahan bakar fosil, tetapi ini tetap menjadi salah satu langkah menuju energi yang lebih hijau,” ujarnya.
