Pertamina Gandeng Boeing Kembangkan Sustainable Aviation Fuel di Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama dengan Boeing untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE).
Melalui kerja sama tersebut, Pertamina dan Boeing akan mengeksplorasi berbagai aspek pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan terhadap kebijakan yang diperlukan guna mempercepat implementasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun fondasi industri SAF nasional dalam jangka panjang.
“Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan,” kata Simon dikutip siaran persnya, Kamis (9/7).
Boeing memproyeksikan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk menekan emisi karbon dari sektor aviasi.
Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
BACA JUGA
- Danantara Mulai Proyek PSEL di Bali, Siapkan Solusi Sampah Sekaligus Energi Bersih
- PSEL Bali Ditargetkan Olah 500 Ribu Ton Sampah per Tahun
- Pemkab Mesuji Cabut Sayembara Tangkap Tapir, Warga Diimbau Tak Tangani Satwa Sendiri
Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
“Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia,” ujar Indra.
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional, Pertamina telah menjalankan sejumlah inisiatif, di antaranya memproduksi dan memperoleh sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel, mengimplementasikan penggunaannya bersama Pelita Air, serta mengembangkan proyek Cilacap Biorefinery melalui PT Pertamina Patra Niaga. Proyek tersebut akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.
Kolaborasi Pertamina dan Boeing juga sejalan dengan visi Asta Cita yang mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi pengurangan emisi karbon di sektor penerbangan, sekaligus memperkuat industri aviasi yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu produsen SAF terbesar di kawasan ASEAN dengan potensi surplus produksi mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050.
