Ini Cara Charging yang Aman untuk Jaga Kesehatan Baterai Mobil Listrik
Jakarta, sustainlifetoday.com – Baterai menjadi salah satu komponen paling vital dalam kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), sekaligus bagian dengan biaya produksi paling tinggi. Sejumlah sumber menyebut baterai dapat menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total biaya produksi kendaraan listrik.
Karena itu, menjaga kesehatan baterai dinilai penting agar kendaraan listrik dapat digunakan dalam jangka panjang sekaligus mendukung keberlanjutan penggunaan EV.
Sustainability Mobility Expert dan co-Founder EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar mengatakan pola pengisian daya menjadi faktor utama yang memengaruhi umur baterai kendaraan listrik.
“Suhu, charging speed dan depth of discharge (DOD) atau kedalaman pelepasan menjadi faktor supaya baterai awet,” terang Mahaendra Gofar dikutip Otodriver, Minggu (10/5).
Menurutnya, penggunaan fast charging atau pengisian cepat berbasis direct current (DC) berpotensi meningkatkan suhu baterai lebih tinggi dibandingkan home charging berbasis alternating current (AC).
“Pengecasan cepat atau fast charging (DC) lebih berpotensi menimbulkan panas dibandingkan dengan pengecasan home charging (AC),” papar Gofar.
Ia menjelaskan, panas berlebih dapat mempercepat degradasi atau penurunan kualitas baterai, terutama jika kendaraan terlalu sering menggunakan fast charging maupun ultra fast charging.
BACA JUGA
- Guru Besar IPB: Kerugian Lingkungan Akibat Aktivitas Sawit Mencapai Rp73,9 Triliun
- Peneliti IPB Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular untuk Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu
- OJK: Insentif Kendaraan Listrik Berpotensi Tingkatkan Pembiayaan Multifinance
“Fast charging apalagi ultrafast charging dapat membuat degradasi (penurunan kondisi baterai) akan relatif lebih cepat,” lanjutnya.
Selain jenis pengisian daya, kondisi baterai saat proses pengecasan juga disebut berpengaruh terhadap ketahanan baterai. Pengguna disarankan untuk tidak terlalu sering mengisi daya saat baterai dalam kondisi hampir habis.
“Semakin tipis kondisi setrum yang tersisa pada baterai, maka semakin dalam pelepasannya. Kondisi ini membuat stres pada baterai. Ujung-ujungnya baterai lebih cepat panas dan usianya jadi lebih pendek,” lanjutnya.
Gofar menyarankan pengisian daya dilakukan ketika kapasitas baterai berada di kisaran 30 hingga 80 persen. Pola pengisian dalam rentang tersebut dinilai lebih aman untuk menjaga suhu dan performa baterai.
“Lebih baik melakukan beberapa kali pengecasan dengan indikator kapasitas energi atau SOC (state of charge) pada rentang angka tersebut, dibandingkan mengisi baterai terlalu tiris dan juga terlalu penuh. Ini akan menimbulkan panas yang lebih tinggi,” bebernya.
Ia menambahkan, pengisian daya berbasis AC atau home charging lebih direkomendasikan untuk penggunaan sehari-hari karena prosesnya lebih lambat dan menghasilkan suhu baterai yang lebih stabil.
“Maka mode pengecasan AC memiliki kecepatan charging lebih lambat (slow/bisa juga dikatakan normal charging dianjurkan, suhu baterai akan tetap terjaga dan hal ini membantu memperpanjang masa pakai baterai,” tutupnya.
