Krisis Air dan Lingkungan Iran Kian Parah, Pakar Soroti Kesalahan Tata Kelola Sejak Lama
Jakarta, sustainlifetoday.com — Krisis lingkungan di Iran kian berada di titik genting. Negara di kawasan Timur Tengah itu menghadapi kombinasi kekeringan parah, krisis air bersih, serta polusi udara yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Sejumlah peneliti menilai kondisi ini tidak hanya dipicu oleh faktor iklim, tetapi juga mencerminkan kegagalan tata kelola lingkungan yang berlangsung selama puluhan tahun.
“Jika saya harus menggunakan satu kata, itu adalah pengelolaan yang salah,” kata Hamid Pouran, peneliti teknologi lingkungan yang menempuh studi di Iran dan kini berbasis di Inggris, dikutip DW, Senin (9/2).
Iran saat ini memasuki tahun keenam kekeringan terparah dalam beberapa dekade terakhir. Dampaknya semakin meluas, mulai dari penurunan ketersediaan air bersih hingga terganggunya ketahanan pangan nasional. Pada November lalu, Presiden Masoud Pezeshkian bahkan mengemukakan gagasan pemindahan ibu kota dari Teheran ke wilayah selatan dekat Teluk Persia. Namun, usulan tersebut dinilai para pengkritik lebih sebagai pengalihan isu ketimbang solusi struktural.
Para peneliti lingkungan menilai, meskipun Iran memang memiliki iklim kering dan karakter geografis bergunung, akar persoalan terletak pada kebijakan yang berorientasi jangka pendek, korupsi, serta lemahnya perencanaan sumber daya air. Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim global yang meningkatkan risiko kekeringan di Iran hingga sepuluh kali lipat.
“Perubahan iklim memang memperburuk masalah,” tambah Pouran.
“Tidak ada yang menyangkal itu. Tapi pengelolaan yang salah dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti adalah masalah utamanya,” lanjutnya.
BACA JUGA:
- Pemerintah Resmi Larang Atraksi Gajah Tunggang demi Kesejahteraan Satwa
- AI Disalahgunakan untuk Konten Seksual Anak, UNICEF Serukan Perlindungan Mendesak
- Bank Mandiri Sukses Salurkan Pembiayaan Hijau Rp 316 Triliun Hingga Akhir 2025
Pertanian Menyedot Cadangan Air
Hampir seluruh cadangan air Iran terserap oleh sektor pertanian. Dalam kondisi terisolasi dari perdagangan global, pemerintah mengejar swasembada pangan dengan membiarkan petani mengebor sumur hingga lapisan akuifer terdalam.
Akibatnya, jumlah sumur meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan dua dekade lalu. Penelitian menunjukkan lebih dari 300 dari total 609 akuifer berada dalam kondisi kritis. Sekitar 70 persen permintaan air nasional berasal dari wilayah dengan akuifer yang telah dieksploitasi secara berlebihan.
“Sekitar 10 tahun yang lalu, sumur-sumur kering karena semua akuifer sekarang habis, dan ada kebun pistasio yang luas yang kini menjadi seperti arang hitam. Matahari membakar pohon-pohon itu,” ujar Houchang Chehabi, sejarawan Boston University yang meneliti politik Iran.
Tak hanya perkebunan, ketersediaan air juga tak lagi cukup untuk menopang produksi tanaman utama seperti gandum, jelai, beras, dan jagung. Eksploitasi akuifer tanpa waktu pemulihan menyebabkan penurunan muka tanah di sekitar 3,5 persen wilayah Iran, yang berisiko merusak infrastruktur jalan, bangunan, dan pipa air.
Dalam beberapa dekade terakhir, Iran juga membangun ratusan bendungan. Namun, lebih dari separuh kapasitas waduk tersebut tidak terisi selama 20 tahun terakhir. Proyek-proyek ini justru mengganggu aliran sungai alami dan mempercepat penguapan air.
“Seringkali, bendungan itu dibangun di tempat yang seharusnya tidak dibangun,” kata Alex Vatanka, pendiri program Iran di Middle East Institute.
Alex menyebut studi kelayakan tidak dilakukan, dan mereka telah menciptakan kerusakan ekologis dalam skala dan proporsi yang belum pernah dilihat sebelumnya.
“Bendungan dibangun karena ada uang yang bisa dihasilkan, negara memfavoritkan hal tersebut,” tambahnya.
Lebih dari 30 bendungan dibangun di wilayah barat laut Iran pada sungai-sungai yang mengalir ke Danau Urmia. Danau air asin terbesar di Timur Tengah itu kini hampir sepenuhnya mengering.
Dampak Sosial dan Gelombang Protes
Sekitar sepertiga populasi Iran kini tinggal di wilayah yang mengalami kekurangan air. Penurunan hasil panen mendorong kenaikan harga pangan dan memicu migrasi petani ke kota-kota besar, yang pada akhirnya semakin menekan pasokan air perkotaan.
Krisis ini juga memicu gelombang protes. Pada 2021, beberapa orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya ditangkap dalam rangkaian aksi yang dikenal sebagai “Pergerakan akibat Kekeringan”. Slogan “air, listrik, hidup adalah hak dasar kita” menjadi seruan yang berulang dalam demonstrasi warga.
Meski para ahli menilai terdapat berbagai solusi yang dapat memperbaiki kondisi lingkungan Iran, kemauan politik untuk menerapkannya dinilai masih minim. Beberapa kebijakan bahkan dianggap hanya menanggulangi gejala, bukan akar persoalan.
Salah satu contohnya adalah rencana pembangunan pipa sepanjang 800 kilometer untuk mengalirkan air laut hasil desalinasi dari Teluk Persia ke wilayah tengah Iran. Para pakar menilai proyek tersebut berbiaya besar dan berisiko ekologis.
“Yang bisa dilakukan adalah program darurat pengelolaan air limbah untuk menangkap sebagian air limbah Teheran dan menggunakannya kembali,” kata Chehabi.
“Tapi dalam situasi saat ini, itu memerlukan tingkat perencanaan, koordinasi, dan lainnya, yang sama sekali tidak ada,” lanjutnya.
Aktivis lingkungan juga mendorong reformasi sektor pertanian, termasuk peralihan dari tanaman boros air serta pemulihan qanats, sistem terowongan air kuno Persia yang kini rusak akibat pemompaan berlebihan.
Di tengah krisis tersebut, Iran dinilai melewatkan peluang besar di sektor energi terbarukan. Meski dua pertiga wilayahnya menerima sinar matahari selama 300 hari per tahun, kurang dari 4 persen listrik Iran berasal dari energi terbarukan, berdasarkan laporan International Renewable Energy Agency 2022.
Padahal, mitra dagang utama Iran, China, merupakan produsen panel surya terbesar di dunia. Ironisnya, Iran yang memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia justru kerap mengalami pemadaman listrik akibat minimnya investasi pada jaringan dan infrastruktur energi.
“Kesempatan bagi Iran sangat besar, tapi selama Anda tidak memiliki visi dan pendekatan serius untuk pembangunan ekonomi, Anda akan melewatkan peluang seperti tenaga surya dan angin,” kata Vatanka.
“Anda butuh fokus, butuh visi ekonomi, dan itu tidak ada dengan rezim ini,” tegasnya.
