Bank Mandiri Sukses Salurkan Pembiayaan Hijau Rp 316 Triliun Hingga Akhir 2025
Jakarta, sustainlifetoday.com — Bank Mandiri memperkuat perannya sebagai motor penggerak keuangan berkelanjutan di Indonesia melalui pembiayaan hijau yang mencapai Rp316 triliun hingga akhir 2025. Capaian ini menegaskan komitmen perseroan dalam mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) ke dalam strategi bisnis jangka panjang.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Henry Panjaitan, menyatakan bahwa penerapan ESG di Bank Mandiri tidak diposisikan sebagai pemenuhan indikator semata, melainkan menjadi fondasi dalam pengelolaan bisnis dan risiko secara menyeluruh.
“Bagi Bank Mandiri, ESG bukan sekadar memenuhi indikator penilaian, tetapi merupakan bagian dari cara kami mengelola bisnis dan operasional secara menyeluruh, mulai dari strategi, tata kelola, hingga manajemen risiko,” ujar Henry dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri Tahun 2025 yang digelar secara daring, Kamis (5/2).
Pendekatan tersebut mendorong Bank Mandiri mencatatkan kinerja unggul dalam pemeringkatan ESG, baik di tingkat nasional maupun regional. Henry menyebut, capaian ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam mengelola risiko keberlanjutan.
“Hasilnya, kami mencatat skor ESG tertinggi di Indonesia. Skor ini tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga bersaing kuat di level ASEAN. Bahkan dari sisi ESG Risk Rating, Bank Mandiri saat ini berada pada kategori risiko terendah yang menjadi terbaik di ASEAN,” katanya.
BACA JUGA:
- Riset BRIN Jadi Andalan Pemerintah untuk Atasi Krisis Sampah
- Pertamina Merger Tiga Anak Usahanya, Percepat Sistem Energi yang Terintegrasi
- Operasi Modifikasi Cuaca Dinilai Berisiko, BRIN Minta Kajian Ilmiah Lebih Mendalam
Hingga Desember 2025, total portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan. Portofolio tersebut terdiri dari pembiayaan hijau sebesar Rp166 triliun dan pembiayaan sosial sebesar Rp150 triliun, dengan pangsa pasar pembiayaan hijau lebih dari 35 persen di antara tiga bank besar nasional.
Henry menjelaskan, kepemimpinan Bank Mandiri dalam pembiayaan berkelanjutan akan terus diperkuat melalui pengembangan pipeline lintas segmen, mulai dari korporasi, ritel, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pipeline ini dibangun lintas segmen, tidak hanya di segmen korporasi, tetapi juga ritel dan UMKM,” ujarnya.
Pembiayaan berkelanjutan tersebut diarahkan ke sektor-sektor strategis yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan inklusif, seperti proyek ketahanan energi dan energi terbarukan, pengembangan waste to energy, penyediaan perumahan inklusif melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), serta penguatan UMKM ekonomi inklusif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan mikro produktif.
Di sisi internal, Bank Mandiri juga berupaya menekan dampak lingkungan dari operasional perusahaan. Hingga 2025, emisi operasional berhasil diturunkan sebesar 32 persen dibandingkan baseline tahun 2019, melalui optimalisasi green building, pemanfaatan kendaraan listrik dan hybrid, serta pemasangan panel surya.
Sementara pada aspek sosial dan inklusi keuangan, Bank Mandiri memperluas akses layanan keuangan bagi pelaku UMKM melalui Livin’ Merchant. Hingga akhir 2025, sebanyak 62,7 persen pengguna Livin’ Merchant berasal dari wilayah non-urban atau setara dengan sekitar 1,9 juta pengguna.
“Dengan fondasi tata kelola dan transparansi yang kuat, Bank Mandiri optimistis memperkuat perannya sebagai katalis transformasi keberlanjutan sekaligus menjaga kepercayaan dari seluruh stakeholder,” tutur Henry.
