Produksi Pangan & Energi Fosil Bikin Dunia Rugi Rp83 Triliun Tiap Jam
Jakarta, sustainlifetoday.com — Dunia kini menghadapi krisis lingkungan yang dampaknya meluas jauh melampaui persoalan ekologi. Cara manusia memproduksi pangan dan menggunakan energi fosil telah menciptakan kerugian lingkungan dalam skala yang mencengangkan.
Laporan utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap bahwa praktik produksi pangan dan penggunaan bahan bakar fosil yang tidak berkelanjutan menyebabkan kerugian lingkungan global sebesar AS$5 miliar per jam, atau setara Rp83 triliun per jam (asumsi kurs AS$1 = Rp16.600).
Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga menggerus ekonomi global, ketahanan pangan, keamanan air, hingga memicu persoalan keamanan nasional dan konflik di berbagai wilayah dunia.
Temuan ini tertuang dalam laporan Global Environment Outlook (GEO) yang disusun oleh sekitar 200 peneliti untuk Program Lingkungan PBB. Laporan tersebut menegaskan bahwa krisis iklim, degradasi alam, dan polusi tidak lagi bisa dipandang sebagai isu lingkungan semata.
Dikutip dari The Guardian, Profesor Robert Watson, co-chair asesmen tersebut, menegaskan keterkaitan langsung krisis lingkungan dengan stabilitas global.
“Semuanya merusak ekonomi kita, ketahanan pangan, ketahanan air, kesehatan manusia, dan juga merupakan masalah keamanan [nasional], yang menyebabkan konflik di banyak bagian dunia,” ujarnya.
Seiring pertumbuhan populasi global dan meningkatnya kebutuhan energi serta pangan—yang mayoritas masih diproduksi dengan cara merusak—tekanan terhadap lingkungan pun semakin intensif.
Para penyusun GEO menilai dunia yang berkelanjutan masih mungkin dicapai, namun membutuhkan perubahan sistemik dan keberanian politik dalam waktu yang sangat terbatas.
Baca Juga:
- PNM Tanam 374 Ribu Pohon, Perkuat Aksi Iklim dan Pemberdayaan Masyarakat
- Minat AS atas Greenland Kembali Mencuat, Iklim dan Mineral Jadi Sorotan
- Kemenkes Catat 62 Kasus Super Flu di Indonesia, Wamenkes: Masih Aman
Profesor Edgar Gutiérrez-Espeleta, mantan Menteri Lingkungan Kosta Rika sekaligus co-chair laporan, menyampaikan peringatan keras terkait urgensi tersebut.
“Seruan mendesak untuk mentransformasi sistem manusia kita sekarang sebelum kehancuran menjadi tak terhindarkan,” ujarnya.
“Ilmunya sudah jelas. Solusinya sudah diketahui. Yang diperlukan adalah keberanian untuk bertindak pada skala dan kecepatan yang dituntut oleh sejarah,” tambah Gutiérrez-Espeleta.
Gutiérrez-Espeleta juga memperingatkan bahwa jendela kesempatan untuk bertindak kini “menjadi sangat sempit.”
Namun di tengah urgensi tersebut, dinamika geopolitik justru memperumit langkah kolektif. Laporan GEO yang tahun ini mencapai 1.100 halaman gagal memperoleh kesepakatan ringkasan bagi para pembuat kebijakan. Sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Iran, Rusia, Turki, dan Argentina, menolak dimasukkannya referensi mengenai bahan bakar fosil, plastik, serta pengurangan konsumsi daging.
Sebagai respons, Inggris menyampaikan pernyataan atas nama 28 negara lain, yaitu sains tidak dapat dinegosiasikan.
Biaya Diam Jauh Lebih Mahal
Laporan tersebut menegaskan bahwa biaya untuk bertindak jauh lebih kecil dibandingkan risiko jika dunia memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Manfaat ekonomi dari aksi iklim saja diperkirakan mencapai AS$20 triliun per tahun pada 2070, dan melonjak hingga AS$100 triliun per tahun pada 2100.
Watson kembali menekankan pentingnya peran negara dan sektor swasta.
“Kita membutuhkan negara-negara visioner dan [perusahaan] sektor swasta untuk menyadari bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan mengatasi masalah-masalah ini daripada mengabaikannya.”
Sementara itu, Gutiérrez-Espeleta menilai sistem ekonomi dan tata kelola global saat ini telah gagal melindungi manusia dan lingkungan.
“Kebijakan lingkungan harus menjadi tulang punguk keamanan nasional, keadilan sosial, dan strategi ekonomi,” kata Gutiérrez-Espeleta.
Salah satu sumber kerugian terbesar berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas, serta dampak pertanian industri, dengan total kerugian lingkungan mencapai AS$45 triliun per tahun. Sistem pangan menyumbang biaya terbesar, disusul sektor transportasi dan listrik berbasis fosil.
Laporan ini juga menyoroti keberadaan subsidi merusak lingkungan senilai AS$1,5 triliun, terutama untuk bahan bakar fosil, pangan, dan pertambangan. Penghapusan subsidi bahan bakar fosil saja dinilai berpotensi menurunkan emisi global hingga sepertiganya.
Beragam opsi kebijakan turut direkomendasikan, mulai dari reformasi harga energi dan pangan agar mencerminkan biaya lingkungan sebenarnya, hingga penerapan pajak daging, subsidi pangan berbasis nabati, dan skema perlindungan sosial agar transisi berkelanjutan tidak membebani kelompok rentan.
