Studi: Setiap Detik, Bumi Kehilangan Air Tawar Setara 4 Kolam Olimpiade
Jakarta, sustainlifetoday.com — Benua-benua di Bumi mengalami pengeringan dengan kecepatan yang semakin mengkhawatirkan. Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan lokal, melainkan ancaman global yang berdampak langsung pada ketahanan air, pangan, ekosistem, hingga stabilitas sosial ekonomi lintas negara.
Laporan terbaru bertajuk Continental Drying: A Threat to Our Common Future yang diterbitkan Bank Dunia memberikan gambaran paling rinci sejauh ini mengenai di mana dan mengapa air tawar di daratan terus menghilang, sekaligus menawarkan arah solusi yang dapat ditempuh negara-negara di dunia.
Pengeringan benua didefinisikan sebagai penurunan jangka panjang ketersediaan air tawar di wilayah daratan luas. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi pencairan salju dan es, pencairan permafrost, peningkatan penguapan akibat pemanasan global, serta eksploitasi air tanah yang masif dan tidak terkendali.
“Kita selalu berpikir bahwa masalah air adalah masalah lokal,” kata penulis studi Fan Zhang.
“Tetapi apa yang kami tunjukkan dalam laporan ini adalah bahwa masalah air lokal dapat dengan cepat menyebar melintasi perbatasan nasional. Dan akhirnya menjadi tantangan internasional,” lanjut Zhang.
Temuan laporan ini menunjukkan bahwa benua kini telah melampaui lapisan es sebagai kontributor terbesar kenaikan permukaan laut global. Air tawar yang hilang dari daratan pada akhirnya bermuara ke laut, dengan volume mencapai sekitar 324 miliar meter kubik per tahun—cukup untuk memenuhi kebutuhan air tahunan sekitar 280 juta orang.
“Setiap detik Anda kehilangan empat kolam renang ukuran Olimpiade,” ujar Zhang.
Dampak ekologis dan sosial yang meluas
Analisis laporan ini didasarkan pada 22 tahun data dari misi GRACE milik NASA, yang memantau perubahan gravitasi Bumi akibat pergeseran air. Data tersebut dipadukan dengan informasi ekonomi, penggunaan lahan, serta dimodelkan melalui pendekatan hidrologi dan pertumbuhan tanaman.
Baca Juga:
- Aktivitas Vulkanik Meningkat, Wisata Gunung Kerinci Dihentikan Sementara
- Minat AS atas Greenland Kembali Mencuat, Iklim dan Mineral Jadi Sorotan
- Kemenkes Catat 62 Kasus Super Flu di Indonesia, Wamenkes: Masih Aman
Rata-rata kehilangan air tawar global mencapai 3 persen dari total curah hujan tahunan bersih dunia. Angka ini melonjak hingga 10 persen di wilayah kering dan semi-kering, dengan Asia Selatan menjadi salah satu kawasan paling terdampak.
Fenomena ini terus memburuk. Studi lanjutan menunjukkan wilayah-wilayah kering yang sebelumnya terpisah kini bergabung membentuk kawasan “mega-kering”.
“Dampaknya sudah mulai terasa,” kata Zhang.
Wilayah yang sangat bergantung pada sektor pertanian seperti Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan berada pada posisi paling rentan.
“Di Afrika sub-Sahara, guncangan kekeringan mengurangi jumlah pekerjaan sebanyak 600.000 hingga 900.000 per tahun. Jika melihat siapa yang terkena dampaknya, mereka yang paling terpukul adalah kelompok yang paling rentan, seperti petani tanpa lahan,” ujar Zhang.
Dampak tidak langsung juga dirasakan negara-negara non-agraris yang bergantung pada impor pangan dari wilayah terdampak kekeringan. Ketika pasokan terganggu, risiko inflasi pangan dan kerawanan sosial pun meningkat.
Dari sisi ekologi, pengeringan daratan memperbesar risiko kebakaran hutan, terutama di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Setidaknya 17 dari 36 wilayah biodiversitas utama dunia menunjukkan tren penurunan ketersediaan air tawar, termasuk Madagaskar, sebagian Asia Tenggara, dan Brasil.
“Implikasinya sangat mendalam,” ungkap Zhang.
Akar masalah: air tanah dan pertanian
Laporan ini menegaskan bahwa penyebab utama pengeringan benua saat ini adalah eksploitasi air tanah. Minimnya perlindungan dan tata kelola membuat air tanah selama beberapa dekade diperlakukan sebagai sumber daya bebas pakai.
Di tengah iklim yang semakin panas dan kering, tekanan terhadap air tanah diperkirakan terus meningkat seiring berkurangnya kelembapan tanah dan mencairnya sumber air es.
Menurut laporan tersebut, sektor pertanian menyumbang sekitar 98 persen jejak air global. “Jadi jika efisiensi penggunaan air pertanian ditingkatkan hingga mencapai tolok ukur tertentu, jumlah total air yang dapat dihemat sangat besar,” jelas Zhang.
Secara global, peningkatan efisiensi irigasi pada 35 tanaman utama hingga tingkat rata-rata saja dapat menghemat air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan 118 juta orang.
Perdagangan air virtual dan jalan keluar berkelanjutan
Salah satu solusi penting yang diangkat adalah perdagangan air virtual, yakni pertukaran air dalam bentuk produk pertanian dan barang intensif air. Strategi ini memungkinkan negara yang kekurangan air menghemat sumber dayanya dengan mengimpor produk dari wilayah yang lebih kaya air.
Namun, praktik ini perlu dikelola secara adil agar tidak memindahkan krisis dari satu negara ke negara lain. Contohnya, produksi alfalfa di wilayah kering Amerika Serikat untuk diekspor ke Arab Saudi telah menguras akuifer di Arizona.
Laporan ini merekomendasikan tiga pendekatan utama: pengelolaan permintaan air, perluasan pasokan melalui daur ulang dan desalinasi, serta alokasi air yang adil dan efektif.
“Jika kita dapat melakukan perubahan tersebut, penggunaan air tawar yang berkelanjutan pasti mungkin,” kata Zhang.
“Kita memang punya alasan untuk optimis,” lanjutnya.
