Minat AS atas Greenland Kembali Mencuat, Iklim dan Mineral Jadi Sorotan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu sorotan global setelah menyatakan minat untuk membeli Greenland, wilayah semi-otonom di kawasan Arktik yang berada di bawah kedaulatan Denmark. Isu tersebut kembali mencuat seiring meningkatnya tensi geopolitik, krisis iklim, dan perebutan sumber daya alam strategis dunia.
“Hal itu (membeli Greenland) saat ini sedang aktif dibahas oleh Presiden (Trump) dan tim keamanan nasionalnya,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dilansir dari BBC, Kamis (8/1).
Meski demikian, pemerintah Greenland dan Denmark kembali menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual. Amerika Serikat disebut membuka seluruh opsi untuk memperoleh Greenland, termasuk penggunaan kekuatan militer, di tengah meningkatnya dinamika keamanan global.
Langkah agresif AS ini menjadi perhatian serius, terutama setelah Trump secara sepihak menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan menguasai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.
“Opsi pertama Trump selalu diplomasi,” tutur Leavitt.
Sebelum serangan AS ke Venezuela, Trump sempat menegaskan pentingnya Greenland bagi kepentingan negaranya.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” ucap Trump kala itu.
Pasca serangan AS ke Venezuela, negara-negara Eropa mulai menanggapi sikap Trump dengan lebih serius. Pada Selasa (6/1), para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris Raya mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa keamanan kawasan Arktik harus dicapai melalui kerja sama sekutu NATO, serta menegaskan kembali kedaulatan Greenland.
Baca Juga:
- Aktivitas Vulkanik Meningkat, Wisata Gunung Kerinci Dihentikan Sementara
- BNPB Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kepulauan Sitaro
- Prabowo Umumkan Indonesia Swasembada Pangan, Arahkan Kemandirian Pangan Berkelanjutan
Di balik narasi keamanan nasional, motif ekonomi dan sumber daya menjadi sorotan utama. Berdasarkan Survei Geologi AS, Greenland memiliki cadangan minyak dan gas yang belum ditemukan dalam jumlah signifikan, serta menempati peringkat kedelapan dunia untuk cadangan mineral tanah jarang.
Mineral-mineral tersebut dinilai krusial dalam transisi energi global, terutama untuk produksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga kebutuhan teknologi pertahanan. Amerika Serikat disebut berupaya mengamankan akses mineral strategis tersebut sebagai respons atas dominasi China dalam rantai pasok global.
Namun demikian, eksploitasi sumber daya alam Greenland menghadapi tantangan besar. Iklim ekstrem, keterbatasan infrastruktur, serta regulasi lingkungan yang ketat membuat sebagian besar cadangan sulit, bahkan tidak mungkin diekstraksi.
Greenland secara resmi melarang eksplorasi minyak dan gas lepas pantai baru sejak 2021, dengan krisis iklim sebagai pertimbangan utama. Sejumlah perusahaan asing yang telah mengantongi izin eksplorasi sebelumnya pun kini dibatasi aktivitasnya.
“Cadangan mineral pulau itu telah menarik minat lebih besar dari perusahaan asing, tapi perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi hambatan yang cukup besar,” ujar Sekretaris Tetap Kementerian Bisnis, Sumber Daya Mineral, Energi, Keadilan, dan Kesetaraan Gender Greenland, Jørgen Hammeken-Holm, dilansir dari Inside Climate News.
Secara strategis, Greenland memiliki tiga faktor utama yang menjadikannya penting bagi AS, sebagaimana dilaporkan CNN. Pertama, posisi geopolitik Greenland berada di jalur celah GIUK, penghubung Arktik dan Samudra Atlantik yang krusial bagi perdagangan dan keamanan maritim. Kedua, kekayaan sumber daya alamnya. Ketiga, perubahan iklim yang mencairkan es Arktik, membuka jalur pelayaran baru dan potensi akses sumber daya yang lebih luas.
Namun, pencairan es juga membawa risiko ekologis besar dan memperbesar ancaman terhadap ekosistem Arktik yang rapuh. Penambangan mineral dan eksploitasi energi di wilayah ini berpotensi memicu dampak lingkungan jangka panjang, bertentangan dengan komitmen global terhadap mitigasi krisis iklim.
Di sisi lain, AS dinilai masih sangat bergantung pada pasokan minyak mentah, termasuk dari Venezuela, untuk mendukung kilang-kilang di Teluk Meksiko. Dengan produksi minyak AS mencapai 12–13 juta barel per hari, kebutuhan cadangan baru menjadi isu strategis, terutama jika permintaan energi fosil tetap tinggi dalam 5–10 tahun ke depan.
Kondisi ini dinilai menjelaskan mengapa pemerintahan Trump berupaya memperlambat penetrasi kendaraan listrik, sekaligus mendorong pendekatan geopolitik yang agresif dalam mengamankan sumber daya energi dan mineral dunia.
