Bangun Sistem Gizi Ramah Lingkungan, BGN Dorong Replikasi Model Zero Waste SPPG Sukamantri
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat agenda transformasi layanan gizi nasional dengan mendorong seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beralih menuju sistem produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Salah satu contoh terbaik hadir dari SPPG Bogor Tamansari Sukamantri, yang kini menjadi model nasional berkat penerapan konsep zero waste berbasis ekonomi sirkular.
SPPG Sukamantri dinilai berhasil mengintegrasikan pengolahan limbah berbasis maggot, manajemen dapur berkelanjutan, serta standar higienitas yang konsisten sehingga mampu menekan sampah makanan secara signifikan sekaligus menciptakan nilai tambah.
Konsep zero waste ini memungkinkan setiap sisa makanan diolah menjadi pakan maggot, kemudian maggot digunakan sebagai pakan ternak yang kembali menjadi bahan menu Makanan Bergizi (MBG), menciptakan siklus produksi yang minim limbah dan hemat sumber daya.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan pentingnya model Sukamantri dalam mendorong praktik keberlanjutan di sektor gizi nasional.
“SPPG Sukamantri membuktikan bahwa penguatan gizi nasional dapat berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Zero waste di sini adalah praktik nyata yang bisa diadopsi oleh daerah lain,” ujar Hida dikutip, Rabu (10/12).
Kepala SPPG Bogor Tamansari Sukamantri, Dhia Aidha Wahyuningtyas, juga menegaskan bahwa konsep zero waste sudah melekat sejak tahap perencanaan dapur.
Baca Juga:
- Swiss-Belhotel Bangun Taman Bermain Ramah Anak di Bogor, Dorong Ruang Publik Berkelanjutan
- Kemenhut Segel 7 Subjek Hukum Perusak Hutan Sumatra, Raja Juli: Ini Janji Saya kepada Rakyat
- Gajah Bantu Pemulihan Lingkungan Pascabanjir, BKSDA Aceh Pastikan Animal Welfare
“Setiap sisa makanan kami olah menjadi pakan maggot, lalu maggot menjadi pakan ternak yang kembali menjadi bahan menu MBG. Siklus ini membuat produksi lebih efisien, sehat, dan ramah lingkungan,” kata Tyas.
Pendamping pengembangan SPPG Sukamantri dari Yayasan Mutiara Keraton Solo, Sujimin atau Jimmy Hantu, menyampaikan dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
“Sejak awal kami ingin membangun SPPG yang bukan hanya memproduksi makanan bergizi, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan. Sistem maggot ini terbukti efektif, produktif, dan sangat mungkin diterapkan di wilayah lain,” tuturnya.
BGN memastikan bahwa pendekatan ini akan diperluas ke lebih banyak wilayah.
“Transformasi SPPG adalah bagian dari roadmap besar BGN. Kami ingin seluruh daerah menerapkan standar yang sama, aman, higienis, efisien, dan minim limbah. Ini penting untuk keberlanjutan program MBG jangka panjang,” tutup Hida.
Baca Juga:
