Energi Terbarukan Jadi Motor Utama Pertumbuhan Pasokan Energi Global 2025
Jakarta, sustainlifetoday.com – Energi terbarukan mencatat sejarah baru pada 2025 dengan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan pasokan energi global di luar periode resesi ekonomi. Namun, lonjakan energi bersih tersebut belum cukup menahan kenaikan emisi karbon dunia yang kembali mencetak rekor.
Laporan Statistical Review of World Energy 2026 yang dirilis Energy Institute menunjukkan total pasokan energi dunia meningkat 1,7 persen sepanjang 2025. Seluruh sumber energi utama tercatat mencapai level konsumsi tertinggi untuk tahun kedua berturut-turut, seiring meningkatnya permintaan listrik global.
Laporan yang disusun bersama Ember, Kearney, dan KPMG itu mencatat energi surya menjadi penggerak utama energi rendah karbon, menyumbang sekitar 72 persen dari tambahan kapasitas baru.
Secara global, pembangkitan listrik tenaga surya tumbuh 30 persen pada 2025, sementara kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai melonjak 66 persen. Kedua teknologi ini memperkuat peran energi bersih dalam transisi sistem energi dunia.
Permintaan listrik global juga naik 3 persen, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan total pasokan energi. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, ekspansi pusat data, serta kebutuhan energi untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Untuk pertama kalinya, energi terbarukan bersama pembangkit listrik tenaga air melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar dunia. Pada saat yang sama, pembangkitan listrik berbasis bahan bakar fosil mulai menunjukkan penurunan.
Meski demikian, emisi karbon global tetap naik 1,1 persen sepanjang 2025.
BACA JUGA
- Blackout Jadi Alarm Percepat Pengembangan PLTS Atap di Indonesia
- Sistem Pendingin Kabut Jadi Andalan China Redam Panas Ekstrem di Perkotaan
- Genesis Bengkulu: Sawit Ilegal Masih Mengancam Habitat Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat
Laporan tersebut juga menunjukkan perbedaan tren antarnegara. Emisi karbon Amerika Serikat naik 3,2 persen, dipicu kenaikan pembangkitan listrik berbasis batu bara sebesar 13 persen. Sementara itu, China mencatat kenaikan 0,3 persen dan India 0,9 persen.
Energy Institute menilai peningkatan efisiensi energi global masih belum mencapai target. Intensitas energi terhadap pertumbuhan PDB membaik sekitar 2 persen, masih di bawah target 4 persen per tahun yang disepakati dalam COP28.
Perbedaan arah transisi energi juga semakin terlihat di berbagai kawasan. China tetap menjadi pemimpin pengembangan energi surya dan angin dengan kapasitas yang melampaui gabungan negara lain, sementara penggunaan batu bara terus menurun.
India mencatat penurunan pembangkitan listrik dari batu bara, minyak, dan gas secara bersamaan, diikuti lonjakan energi terbarukan hampir 24 persen. Di Eropa, energi terbarukan tumbuh sekitar 7 persen, sementara Inggris mencatat kenaikan pembangkit listrik tenaga surya hingga 37 persen.
Presiden Energy Institute Andy Brown menyebut kebutuhan energi global yang terus meningkat membuat isu ketahanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan semakin menentukan arah kebijakan energi dunia.
Sementara itu, Chief Executive Energy Institute Nick Wayth menilai sistem energi global tengah berada pada titik perubahan penting.
“Kita melihat adanya penggantian bahan bakar fosil yang menggembirakan dalam sektor ketenagalistrikan, tetapi emisi global terus meningkat dan tekanan terhadap ketahanan energi semakin besar. Temuan ini menegaskan pentingnya mempercepat efisiensi, elektrifikasi, dan investasi dalam teknologi bersih di seluruh dunia,” kata Wayth dalam pernyataannya dikutip Sabtu (4/7).
Interim Managing Director Ember, Aditya Lolla, menilai pertumbuhan energi terbarukan dan elektrifikasi kini semakin didorong oleh faktor ekonomi, efisiensi, dan ketahanan energi.
Di sisi lain, KPMG mencatat pergeseran pusat produksi minyak global, dengan kawasan Amerika kini menghasilkan sekitar 20 persen lebih banyak dibandingkan Timur Tengah. Perubahan ini turut menggeser arus perdagangan energi dan mendorong penyesuaian strategi industri.
Kearney menambahkan bahwa percepatan energi terbarukan perlu diiringi pembangunan jaringan listrik, sistem penyimpanan energi, dan infrastruktur pendukung agar transisi energi dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
