KKP Targetkan Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Pesisir Berkelanjutan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir. Melalui transformasi desa nelayan menjadi kawasan yang lebih modern, produktif, dan terintegrasi dengan akses pembiayaan serta pasar, pemerintah memperkirakan program tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah pesisir hingga 16,2 persen sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung pembangunan ekonomi biru dan pemerataan pembangunan di wilayah pesisir.
“Program Kampung Nelayan Merah Putih merupakan salah satu strategi transformasi desa nelayan menjadi kawasan produktif dan modern, sekaligus menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir dengan proyeksi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 hingga 16,2 persen,” ujar Trenggono di Jakarta, Kamis (2/7).
Menurutnya, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil tangkapan nelayan, tetapi juga membangun ekosistem usaha perikanan yang lebih terintegrasi, mulai dari pembiayaan, operasional, hingga pemasaran hasil perikanan ke pasar domestik maupun ekspor.
Trenggono menjelaskan implementasi KNMP telah dimulai sejak 2023 melalui proyek percontohan di Kampung Samber Pineri, Biak Numfor.
BACA JUGA
- Budaya Bersih Suporter Jepang Kembali Jadi Inspirasi di Piala Dunia 2026
- Sentil Pengusaha, Menteri LH: Jangan Korbankan Lingkungan demi Untung
- PBB: Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Ancam Jalannya Piala Dunia 2026
Hasilnya menunjukkan peningkatan kesejahteraan nelayan, dengan nilai tukar nelayan mencapai 113,2 persen, penjualan ikan naik 47 persen, produksi tangkapan meningkat 130 persen, serta pendapatan nelayan bertambah hingga 78 persen.
Selain itu, akses pasar hasil tangkapan juga semakin luas. Jika sebelumnya pemasaran hanya dilakukan di pasar lokal, kini hasil perikanan dari kawasan tersebut telah dipasarkan ke Bitung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya, dengan total distribusi mencapai 295 ton senilai Rp4,7 miliar. Sebagian besar hasil produksi bahkan telah menembus pasar ekspor.
“Kalau dulu penjualannya hanya di pasar lokal, sekarang hampir 90 persen sudah ekspor,” kata Trenggono.
Ia menambahkan, pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih disusun melalui tiga tahapan, yakni peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, dan keberlanjutan.
Pada tahap akhir, masyarakat pesisir akan didorong melakukan diversifikasi usaha melalui pengembangan budidaya laut (mariculture) yang dinilai memiliki potensi besar, meski tingkat pemanfaatannya saat ini baru sekitar 10 persen.
Menurut Trenggono, program tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan ekonomi biru yang tidak hanya bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir.
“Proses bisnis Kampung Nelayan Merah Putih dirancang agar nelayan tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga mendapatkan dukungan permodalan, fasilitas operasional, dan akses pasar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor,” tegasnya.
