Spesies Nyamuk Malaria Diprediksi Meluas Akibat Pemanasan Global
JAKARTA, sustainlifetoday.com – Pemanasan global diperkirakan mendorong tiga dari enam spesies nyamuk pembawa malaria menyebar lebih luas ke berbagai wilayah dunia. Temuan terbaru University of Copenhagen memberi peringatan bahwa risiko kesehatan publik dapat meningkat tajam jika perubahan iklim tidak dibatasi.
Setiap tahun sekitar 600 ribu orang meninggal karena malaria, terutama di kawasan Sub Sahara Afrika. Anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan. Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Global Change Biology mengungkapkan perubahan pola curah hujan, suhu, dan kelembapan menciptakan kondisi yang semakin ideal bagi nyamuk malaria untuk berkembang biak.
“Penelitian kami mengindikasikan perubahan iklim akan menguntungkan nyamuk malaria, bila tidak segera bertindak, sekitar 200 juta sampai 1 miliar orang berisiko (terserang malaria),” ujar ketua penelitian yang dipublikasikan di jurnal Global Change Biology, Tiem van der Deure seperti dikutip , Kamis (27/11).
Van der Deure menjelaskan angka 200 juta merupakan proyeksi konservatif. Sementara skenario 1 miliar memasukkan variabel pertumbuhan populasi. Ia menyebut perluasan area sebaran nyamuk akan membuat jutaan orang terpapar tanpa memiliki imunitas maupun pengalaman terhadap penyakit tersebut.
Para peneliti meneliti bagaimana enam spesies nyamuk pembawa malaria merespons perubahan iklim. Anna Sofie Stensgaard dari Departemen Kedokteran Hewan University of Copenhagen menjelaskan bahwa perbedaan antarspesies sebenarnya sangat besar meskipun tidak terlihat secara kasat mata. Ia mengatakan bahwa meski bentuknya tampak serupa, masing masing spesies memiliki perilaku dan preferensi lingkungan yang sangat berbeda.
Tim peneliti menggunakan data ribuan nyamuk yang diobservasi lalu melatih algoritma untuk memetakan kondisi lingkungan paling ideal bagi masing masing spesies. Hasilnya menunjukkan tiga spesies diprediksi menyebar ke wilayah yang lebih luas. Tiga spesies lainnya tidak menunjukkan penurunan signifikan. Kombinasi ini menciptakan tren yang dinilai sangat mengkhawatirkan.
Proyeksi penelitian menunjukkan perluasan habitat nyamuk terutama akan terjadi di Afrika Timur dan Afrika Tengah, sedangkan Afrika Barat tetap menjadi kawasan yang paling disukai nyamuk. Van der Deure menegaskan bahwa penyebaran ini masih mungkin dicegah bila pemanasan global dapat dibatasi.
“Skenario-skenario iklim kami menunjukkan, kita dapat mencegah hal ini dengan membatasi perubahan iklim, kami meneliti satu skenario di mana dunia berlangsung seperti ini seterusnya dan skenario ketika kita berhasil mencapai target Perjanjian Paris,” jelasnya.
Profesor David Nogues dari Pusat Mikrobiologi, Evolusi dan Iklim University of Copenhagen menilai hasil studi tersebut sebagai peringatan penting tentang kebutuhan mendesak mencapai target Perjanjian Paris. Menurutnya, kegagalan membatasi pemanasan bumi tidak hanya menyebabkan kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem, tetapi juga berpotensi memicu krisis kesehatan masyarakat.
Penelitian ini meminta otoritas kesehatan global bersiap menghadapi potensi kemunculan malaria di wilayah yang sebelumnya tidak memiliki rekam jejak penyakit tersebut. Seperti yang terjadi di Eropa Utara, wilayah tersebut pernah memiliki malaria pada masa lalu namun suhu saat ini masih terlalu dingin bagi parasit untuk berkembang biak.
