Portofolio Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun, Capai 23,1 Persen Total Kredit
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan portofolio pembiayaan berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) sebesar Rp78,6 triliun. Angka ini merepresentasikan 23,1 persen dari total pembiayaan perseroan, atau tumbuh 7,09 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Wakil Direktur Utama BSI, Bob T Ananta, menyampaikan bahwa porsi pembiayaan keberlanjutan tersebut ditopang oleh pembiayaan sosial (social financing) senilai Rp61,2 triliun dan pembiayaan hijau (green financing) sebesar Rp17,4 triliun.
“Kami membuktikan bahwa komitmen terhadap bisnis berkelanjutan membuat portofolio bisnis menjadi nyata dan tumbuh sehat,” kata Bob.
Bob memaparkan bahwa integrasi prinsip ESG BSI dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni sustainable banking, operation & beyond banking, serta business enablers. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Bagi BSI, keberlanjutan merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, perlindungan lingkungan, tata kelola yang baik, serta penciptaan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Bob.
BACA JUGA
- Presiden Prabowo Resmikan Ekspor Perdana Baterai Listrik dan Groundbreaking Hilirisasi Nikel Weda Bay
- Tabebuya Bermekaran Hiasi Sudut Jakarta, Ruang Terbuka Hijau Tawarkan Nuansa Musim Semi
- Soroti Tingginya Konsumsi Air dan Listrik Data Center AI, Kemenko Perekonomian Siapkan Solusi
Dalam segmen pemberdayaan ekonomi inklusif, BSI mencatatkan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar 33,65 persen, melampaui batas target minimum yang ditetapkan sebesar 30 persen. Adapun portofolio pembiayaan untuk segmen UMKM berkontribusi hingga 16,25 persen dari total pembiayaan bank.
Integrasi pendampingan BSI turut berhasil mengeskalasi kelas bisnis puluhan ribu UMKM binaan. Sebanyak 17.000 UMKM penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro tercatat berhasil naik ke segmen KUR Kecil dan komersial, 4.000 UMKM segmen KUR Kecil menembus segmen komersial, serta 1.000 UMKM melompat dari segmen mikro ke segmen Small and Medium Enterprise (SME).
Di sisi instrumen pasar modal, perseroan memperkuat pendanaan hijau melalui penerbitan sustainable sukuk dengan nilai realisasi mencapai Rp8 triliun dari total target program penerbitan sukuk berkelanjutan sebesar Rp10 triliun. BSI juga menorehkan rekor melalui peluncuran sustainability-linked financing pertama di Indonesia senilai Rp1,5 triliun untuk proyek infrastruktur Tol Bali Mandara.
Selain penerapan carbon tracking, penyaluran ZISWAF, dan armada operasional ramah lingkungan, Bob menegaskan bahwa keberlanjutan perseroan bertumpu pada penguatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG).
“Langkah ini sejalan dengan penguatan Good Corporate Governance (GCG) sebagai fondasi untuk memastikan seluruh aktivitas bisnis dijalankan secara transparan, akuntabel, bertanggung jawab, independen, dan sesuai dengan prinsip kehati-hatian,” pungkasnya.
