Liburan ke Antartika Boros Energi, Setiap Turis Sumbang Hingga 6,4 Ton Emisi
Jakarta, sustainlifetoday.com — Setiap tahun, lebih dari 100 ribu wisatawan internasional, termasuk hampir 10 ribu warga Australia berkunjung ke Antartika untuk menikmati pemandangan es yang megah dan satwa liar yang unik. Namun, di balik pengalaman luar biasa itu, tersimpan persoalan serius, yaitu besarnya emisi karbon yang ditinggalkan setiap perjalanan menuju benua es.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan Journal of Sustainable Tourism mengungkapkan bahwa kombinasi penerbangan jarak jauh dan perjalanan panjang menggunakan kapal pesiar membuat wisata Antartika menjadi salah satu destinasi paling boros energi di dunia.
“Kombinasi penerbangan jarak jauh dan perjalanan panjang dengan kapal pesiar membuat Antartika menjadi salah satu destinasi wisata paling boros energi,” tulis laporan tersebut, dilansir dari ABC Net Australia News pada Selasa (2/9).
Penelitian ini memperkirakan jejak karbon wisatawan menggunakan data satelit, spesifikasi mesin kapal, hingga catatan emisi pesawat. Hasilnya mengejutkan: musim turis 2022–2023 saja menghasilkan 674.696 ton emisi karbon dioksida ekuivalen (CO2-eq). Rata-rata, setiap wisatawan menyumbang 6,41 ton emisi, setara dengan emisi tahunan rata-rata warga Eropa.
“Jejak karbon besar dari pariwisata Antartika menjadi tantangan di tengah krisis iklim global,” bunyi laporan tersebut.
Baca Juga:
- Atas Diskresi Polri, Jasa Marga Tutup Tol Dalam Kota Disepanjang Titik Demo
- Polri: Situasi Jakarta Kondusif Pasca Rentetan Demo
- Imbas Demo, MRT Jakarta Tutup Dua Entrance di Sudirman-Senayan
Jenis perjalanan yang ditempuh wisatawan menentukan besar kecilnya emisi. Mulai dari pelayaran besar tanpa mendarat yang menghasilkan 3,11 ton per orang, hingga ekspedisi panjang ke Ross Sea dan daratan Antartika yang rata-rata menghasilkan 16,5 ton per orang.
Meski secara total kontribusinya masih kecil dibanding industri global, Antartika tetap menempati posisi puncak untuk emisi per individu.
“Meskipun Antartika terus menjadi tujuan tertinggi dalam hal emisi per individu, penting untuk dicatat bahwa totalnya masih di bawah 2 persen dari kontribusi industri pelayaran dunia,” kata penulis utama studi, Daniela Cajiao, dari Wageningen University.
Asosiasi Internasional Operator Tur Antartika (IAATO) menyadari persoalan ini.
“Sebagai organisasi yang mengusung misi perjalanan aman dan bertanggung jawab, pengurangan emisi menjadi bagian penting dari pekerjaan kami,” ujar Penasihat senior lingkungan IAATO, Amanda Lynnes.
Langkah nyata mulai dilakukan, misalnya penggunaan kapal hybrid-electric oleh HX (Hurtigruten Expeditions) yang mampu menekan emisi hingga 20 persen.
“Industri ekspedisi kapal pesiar punya peluang besar menjadi contoh pariwisata ramah lingkungan,” kata Tudor Morgan, duta Antartika HX.
Namun, laporan juga menyoroti kontradiksi: wisatawan sering diposisikan sebagai “duta Antartika” yang diharapkan pulang dengan semangat melindungi kawasan ini, tetapi perjalanan mereka justru meninggalkan jejak karbon besar.
“Hasil ini memunculkan pertanyaan, apakah tingginya emisi gas rumah kaca per orang sejalan dengan upaya industri pariwisata yang menggambarkan wisatawan Antartika sebagai duta bagi benua tersebut,” tulis laporan itu.
Lynnes menekankan bahwa ambassadorship bukan soal membenarkan perjalanan, melainkan soal pemaknaan.
“Ini lebih kepada bagaimana memanfaatkan kesempatan saat berada di Antartika. Bagi banyak orang, perjalanan ini tetap menjadi pengalaman seumur hidup, dan penting untuk benar-benar dimaknai,” ujarnya.
Ke depan, para pihak dalam perjanjian Antartika telah sepakat untuk menyusun regulasi baru yang mengatur perkembangan pariwisata di kawasan tersebut.
