Kemarau Ekstrem Susutkan Air Bendungan Karian Hingga Munculkan Sisa Permukiman Lama
Jakarta, sustainlifetoday.com – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Banten berdampak pada menyusutnya debit air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak. Surutnya air ini memunculkan kembali sisa-sisa bangunan dari desa yang sebelumnya ditenggelamkan, sehingga menarik warga untuk mendatangi dan bernostalgia di bekas tempat tinggal mereka.
Di dasar bendungan tersebut, jejak permukiman seperti dinding rumah hingga bangunan masjid yang telah ditinggalkan sejak 2023 kembali terlihat jelas di atas tanah. Area tersebut dulunya dialihfungsikan menjadi kawasan resapan air Bendungan Karian guna mendukung ketahanan air daerah.
Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati, menjelaskan bahwa kawasan yang kini menyembul tersebut memang dulunya adalah area padat penduduk.
“Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya Kecamatan Sajira, sudah di area hulu, dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat,” ujar Maretha mengutip detikcom pada Rabu (29/7).
Ia menambahkan, sisa bangunan tersebut masih utuh karena sejak awal proyek tidak ada penghancuran secara menyeluruh terhadap struktur bangunan saat lahan dibebaskan.
“Kondisi seluruh area genangan meski sudah dibebaskan tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja,” ujarnya.
BACA JUGA
- KLH Kumpulkan Ratusan Penggiat Lingkungan Bahas Solusi Pencemaran Sungai Nasional
- PNM Tanam 22 Ribu Pohon Mangrove untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Pesisir
- Kementerian Kehutanan Konfirmasi Kelangsungan Hidup Anak Harimau Sumatra di Kerinci Seblat
Terkait fluktuasi air, Maretha menyebut bahwa elevasi mengalami penurunan namun masih dalam batasan yang terkendali.
“Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana, mengonfirmasi bahwa fenomena munculnya permukiman ini secara utuh sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim saat ini.
“Karena kemarau ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat,” ucap Dedi.
Ia membandingkan bahwa pada waktu sebelumnya, permukiman ini tidak pernah menampakkan diri sejelas sekarang. “(Sebelumnya) Hanya sebagian,” katanya.
Meski debit air waduk menyusut hingga menampakkan bekas permukiman yang berjarak 16 kilometer dari as bendungan dengan elevasi di atas +64,50 meter itu, Dedi memastikan bahwa pasokan air baku serta suplai irigasi ke Daerah Irigasi (DI) Ciujung masih tergolong aman. Saat ini, debit air dirilis sebesar 24 m³/detik sebagai suplesi irigasi dari intake Bendungan Karian ke Bendung Gerak Pamarayan Baru.
“Jika di hilir membutuhkan air lebih banyak, masih dapat dikeluarkan dari Karian,” ujar Dedi saat dihubungi terpisah.
Pihak BBWSC3 memastikan bahwa fenomena ini wajar terjadi dan tidak mengindikasikan adanya gangguan pada fungsi operasional infrastruktur bendungan.
“Saat ini tampungan Bendungan Karian masih aman untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun irigasi. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau dan masih berada dalam batas aman operasi waduk,” ujar Dedi.
Untuk menghadapi puncak musim kemarau, pihak pengelola terus melakukan penyesuaian manajemen tata air agar kebutuhan pertanian dan masyarakat tetap terjamin.
“Sebagai upaya mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus mendatang, BBWS C3 terus menjaga ketersediaan air pada tampungan yang dikelola, baik bendungan maupun bendung agar tetap mampu memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat,” kata Dedi.
