Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenhut Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla
Jakarta, sustainlifetoday.com — Kementerian Kehutanan berencana melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring prediksi musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun lalu.
Operasi tersebut terutama ditujukan untuk membasahi lahan gambut yang rentan terbakar ketika kondisi kering. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan pemerintah telah menyiapkan jadwal operasi modifikasi cuaca sepanjang tahun ini.
“Kami sudah membuat timeline. Dalam satu tahun ini, kami membutuhkan tidak kurang dari 35 operasi modifikasi cuaca, karena kemarau diprediksi maju dan agak panjang dibanding 2025,” kata Rohmat di Jakarta, Senin (16/3).
Setiap operasi direncanakan berlangsung selama 10–12 hari, dengan satu hingga dua kali penerbangan setiap hari untuk menabur bahan penyemaian awan agar hujan dapat turun di wilayah rawan kebakaran.
Biaya pelaksanaan diperkirakan mencapai Rp2,3 miliar hingga Rp2,5 miliar untuk setiap provinsi. Operasi ini akan difokuskan di kabupaten dan kota yang memiliki tingkat kebakaran hutan dan lahan yang tinggi.
BACA JUGA
- Dua Korporasi di Tangerang Segera Disidang Atas Tindak Pidana Lingkungan
- Prabowo Siapkan Inpres Penyelamatan Gajah Sumatra dan Borneo
- BRIN dan Agrinas Palma Nusantara Kolaborasi Kembangkan Sawit Berkelanjutan
Menurut Rohmat, pendanaan operasi tersebut tidak hanya berasal dari Kementerian Kehutanan. Pemerintah juga melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta kontribusi dari sektor swasta.
“Perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) sektor kehutanan juga kami minta berkontribusi,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal pada April 2026, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus.
BMKG juga mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, termasuk penurunan kualitas udara serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Beberapa wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal antara lain Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
BACA JUGA
