Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55 Persen, BPS Ungkap Penyebabnya
Jakarta, sustainlifetoday.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 3,55 persen pada Januari 2026 secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 yang tercatat sebesar 4,04 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Aceh sebesar 6,69 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Lampung sebesar 1,90 persen.
“Tingkat inflasi tahunan Januari 2026 yang cukup tinggi disebabkan oleh basis pembanding yang relatif rendah (low base effect),” ujar Ateng dalam Konferensi Pers, Senin (2/2).
BPS mencatat kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama inflasi secara tahunan dengan andil sebesar 1,72 persen.
“Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah tarif listrik, tarif air minum PAM, sewa rumah, dan bahan bakar rumah tangga,” jelasnya.
Ateng menjelaskan, tarif listrik menjadi salah satu pendorong inflasi karena pada Januari–Februari 2025, PT PLN (Persero) sempat memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi pelanggan rumah tangga dengan daya 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA.
BACA JUGA:
- Studi: Harga Pangan yang Tinggi Ganggu Tumbuh Kembang Anak di Indonesia
- Bendung Katulampa Siaga 3, Pemprov DKI Siaga Banjir
- WHO Resmi Merilis Rekomendasi Penyediaan Makanan Sehat dan Bergizi di Sekolah
“Khusus tarif listrik, dorongan inflasinya disebabkan karena fenomena low base effect,” katanya.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/mtm), BPS mencatat terjadi deflasi sebesar 0,15 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,30 persen.
“Komoditas penyumbang utama deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras dan telur ayam ras,” pungkas Ateng.
