Studi: Harga Pangan yang Tinggi Ganggu Tumbuh Kembang Anak di Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com — Sebuah studi terbaru dari tim peneliti University of Bonn mengungkap dampak serius tingginya harga pangan terhadap pertumbuhan anak-anak di Indonesia. Anak-anak yang tumbuh di tengah lonjakan harga makanan cenderung mengalami kondisi paradoks: berat badan meningkat, tetapi tinggi badan terhambat.
Penelitian tersebut menyoroti bahwa kenaikan harga pangan, terutama saat krisis ekonomi, paling berdampak pada masyarakat perkotaan serta kelompok dengan tingkat pendidikan rendah. Kondisi ini tidak hanya memicu masalah gizi jangka pendek, tetapi juga berpotensi meninggalkan konsekuensi kesehatan seumur hidup, termasuk stunting dan risiko obesitas.
Studi ini dilakukan oleh dua peneliti dari University of Bonn, Elza S. Elmira dan Matin Qaim, dengan menelaah dampak jangka panjang krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an. Krisis tersebut memicu lonjakan tajam harga beras sebagai pangan pokok utama masyarakat Indonesia, yang kemudian berdampak langsung pada pola konsumsi dan kualitas gizi rumah tangga.
Dalam risetnya, para peneliti dari Center for Development Research (ZEF) University of Bonn menganalisis data Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (Indonesian Family Life Survey/IFLS). Survei ini merekam kondisi rumah tangga Indonesia selama beberapa dekade.
Mereka membandingkan perbedaan inflasi harga beras di berbagai wilayah Indonesia pada periode 1997–2000 dengan data pengukuran tubuh individu sejak masa kanak-kanak hingga dewasa muda.
“Kami melihat bahwa guncangan harga yang besar tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan fisik anak dalam jangka panjang,” kata Elza S. Elmira, penulis utama studi tersebut dikutip dari laman National Geographic Indonesia, Minggu (1/2).
“Kenaikan harga akibat krisis meningkatkan kekurangan gizi kronis dan dikaitkan dengan peningkatan 3,5 poin persentase pada tengkes (stunting),” ujar Elmira.
“Anak-anak yang sangat terpengaruh tidak hanya akan tetap lebih pendek daripada teman sebaya mereka yang tidak terpengaruh di kemudian hari, tetapi mereka juga akan jauh lebih rentan terhadap obesitas,” lanjutnya.
Temuan tersebut mengejutkan para peneliti. Elmira menilai kondisi ini berkaitan erat dengan penurunan daya beli masyarakat selama krisis.
“Di masa krisis, keluarga lebih sedikit menghemat kalori daripada makanan yang lebih mahal dan kaya nutrisi. Hal ini mengakibatkan ‘kekurangan tersembunyi’ mikronutrien penting, yang memperlambat pertumbuhan tinggi badan tanpa harus mengurangi berat badan hingga tingkat yang sama,” paparnya.
Penelitian ini memantau anak-anak yang sama hingga tahun 2014, saat mereka berusia 17 hingga 23 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang berusia tiga hingga lima tahun saat krisis terjadi memiliki korelasi signifikan dengan peningkatan indeks massa tubuh (BMI) dan risiko obesitas di usia dewasa muda.
Masa Kritis Pertumbuhan Anak
“Kekurangan gizi di masa kanak-kanak dapat berdampak seumur hidup – gangguan pertumbuhan lebih mudah diukur tetapi sering disertai dengan gangguan perkembangan mental dan peningkatan risiko obesitas dan penyakit kronis,” kata Prof. Dr. Matin Qaim, salah satu penulis studi tersebut.
BACA JUGA:
- KLH Siapkan Kajian Lingkungan dan Penegakan Hukum Pasca longsor Cisarua
- Disinformasi, Negara, dan Hak Warga: Membaca Naskah Akademik RUU Disinformasi dari Perspektif Perlindungan Data Pribadi dan HAM
- PIS Sukses Pangkas Emisi Ratusan Ribu Ton CO2e Sepanjang 2025
“Dalam krisis yang sama, kekurangan gizi dan obesitas dapat meningkat. Hal ini menekankan pentingnya kebijakan krisis yang peka terhadap gizi: kebijakan tersebut harus secara khusus melindungi anak-anak pada tahap perkembangan yang sensitif,” tegas Qaim.
“Jika kebijakan pangan hanya memperhatikan kalori, kebijakan tersebut dapat melewatkan masalah sebenarnya,” ujarnya.
Dampak krisis harga pangan ini paling terasa di wilayah perkotaan, di mana rumah tangga sangat bergantung pada pembelian makanan. Sebaliknya, keluarga di pedesaan relatif lebih terlindungi karena sebagian dapat memproduksi beras sendiri.
Faktor pendidikan juga memegang peranan penting. Anak-anak dari ibu dengan tingkat pendidikan rendah tercatat lebih terdampak dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan krisis tidak boleh hanya didasarkan pada garis kemiskinan,” tegas Elmira dan Qaim.
“Terutama di kota-kota dan di tempat-tempat dengan pengetahuan rendah tentang pola makan seimbang, guncangan harga dapat memperburuk kualitas gizi sehingga konsekuensinya bersifat jangka panjang dan tidak dapat dipulihkan.”
Relevansi Global dan Tantangan Masa Depan
Para peneliti University of Bonn menilai temuan ini relevan dengan kondisi global saat ini. Guncangan panen, pendapatan, dan harga pangan tengah meningkat di berbagai belahan dunia akibat konflik, pandemi, serta dampak perubahan iklim.
Analisis berbasis data Indonesia ini memberikan bukti empiris bahwa gejolak ekonomi dapat bertransformasi menjadi risiko kesehatan jangka panjang melalui mekanisme harga pangan.
Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Global Food Security dengan judul “Macroeconomic shocks and long-term nutritional outcomes: Insights from the Asian financial crisis.”
