Hiu Terekam di Perairan Antarktika, Peneliti Soroti Dampak Perubahan Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com — Para peneliti menemukan seekor hiu berukuran besar berenang di perair k di perairan Antarktika, menandai temuan pertama spesies tersebut di wilayah laut yang dikenal memiliki suhu ekstrem dingin. Penemuan ini memicu perhatian ilmuwan terhadap dinamika ekosistem laut dalam serta potensi dampak perubahan iklim terhadap distribusi spesies.
Hiu yang diduga sebagai hiu sleeper tersebut terekam kamera penelitian pada Januari 2025 di kedalaman sekitar 490 meter dengan suhu air mencapai 1,27 derajat Celsius, hampir mendekati titik beku. Panjang hiu diperkirakan antara tiga hingga empat meter.
Peneliti Alan Jamieson mengatakan temuan ini mengubah pandangan lama bahwa hiu tidak hidup di perairan Antarktika.
“Kami turun ke sana tanpa mengharapkan melihat hiu karena ada aturan umum bahwa hiu tidak ada di Antarktika,” kata Jamieson, dikutip dari AP, Jumat (20/2).
“Dan ini bukan hiu kecil. Ini hiu yang besar. Makhluk-makhluk ini seperti tank,” tambahnya.
Kamera penelitian yang dioperasikan Minderoo-UWA Deep-Sea Research Centre ditempatkan di sekitar Kepulauan South Shetland dekat Semenanjung Antarktika, wilayah yang termasuk dalam Samudra Antarktika atau Samudra Selatan.
Pada rekaman tersebut, hiu terlihat berenang perlahan di dasar laut. Seekor skate, kerabat hiu yang mirip pari juga terlihat dalam rekaman dan tidak menunjukkan respons terhadap keberadaan predator tersebut.
BACA JUGA:
- Ramadan Jadi Momentum Jaga Bumi, Greenpeace Soroti Lonjakan Sampah Makanan
- Indonesia Gabung Pasukan ISF di Bawah Board of Peace, Kemlu: Palestina Sudah Setuju
- Menag Nasaruddin Umar Gaungkan “Ramadhan Hijau” di Masjid Istiqlal
Jamieson mengatakan belum menemukan catatan lain tentang keberadaan hiu di Samudra Antarktika. Hal serupa juga disampaikan Peter Kyne, ahli biologi konservasi dari Universitas Charles Darwin, yang menyebut belum ada laporan sebelumnya mengenai hiu yang ditemukan sejauh itu ke selatan.
Kyne menjelaskan perubahan iklim dan pemanasan laut berpotensi mendorong spesies laut berpindah ke wilayah yang lebih dingin. Namun, keterbatasan data dari wilayah Antarktika yang terpencil membuat fenomena tersebut masih sulit dipastikan.
Menurutnya, hiu sleeper kemungkinan telah lama berada di kawasan tersebut tanpa terdeteksi.
“Ini luar biasa. Hiu berada di tempat yang tepat, kamera berada di tempat yang tepat, dan mereka mendapatkan rekaman yang luar biasa. Ini cukup signifikan,” ucap Kyne.
Jamieson memperkirakan populasi hiu sleeper di Samudra Antarktika sangat jarang dan sulit dideteksi. Hiu tersebut terlihat mempertahankan kedalaman sekitar 500 meter, yang diduga merupakan lapisan air paling hangat di antara struktur lapisan laut Antarktika yang sangat terstratifikasi.
Perairan Antarktika memiliki lapisan air dengan karakteristik berbeda hingga kedalaman sekitar 1.000 meter, akibat percampuran terbatas antara air dingin dari bawah dan air tawar dari pencairan es di permukaan.
Peneliti memperkirakan hiu di wilayah tersebut memakan bangkai paus, cumi-cumi raksasa, serta organisme laut lain yang tenggelam ke dasar laut.
Pengamatan di wilayah tersebut masih sangat terbatas karena kamera penelitian hanya dapat beroperasi pada musim panas Antarktika antara Desember hingga Februari.
“Selama 75 persen sisa tahun, tidak ada yang memantau sama sekali. Dan itulah mengapa, menurut saya, kita sesekali menemukan kejutan-kejutan ini,” tutup Jamieson.
