Menag Nasaruddin Umar Gaungkan “Ramadhan Hijau” di Masjid Istiqlal
Jakarta, sustainlifetoday.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, dengan menyoroti konsep “Ramadhan Hijau” yang menekankan spiritualitas berbasis kelembutan serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ceramah tersebut disampaikan saat pelaksanaan shalat tarawih pertama. Dalam kesempatan itu, Nasaruddin menekankan pentingnya sifat feminin dalam beragama sebagai wujud kelembutan dan kasih sayang, sekaligus mengajak umat memperkuat kepedulian terhadap alam selama bulan suci.
Konsep “Ramadhan Hijau” disebut sebagai ajakan untuk membangun karakter yang lebih peduli lingkungan, membersihkan hati dan pikiran, serta mempererat hubungan manusia dengan alam. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas makna ibadah puasa tidak hanya pada dimensi spiritual, tetapi juga sosial dan ekologis.
“Masjid itu harus melembutkan hati, jiwa, dan pikiran seseorang. Kita akan kembalikan fungsi agama sesungguhnya, yakni mengajak masyarakat mencintai alam semesta. Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba dan khalifah yang baik tanpa alam yang sehat,” kata Nasaruddin.
Sebagai implementasi nyata, Masjid Istiqlal telah menjalankan sejumlah inisiatif ramah lingkungan. Pengelola masjid memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya di atap bangunan untuk mendukung efisiensi energi serta mengurangi dampak lingkungan.
BACA JUGA:
- BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah di Awal Ramadan
- KLH Dukung MUI Soal Fatwa Haram Membuang Sampah ke Sungai, Danau, dan Laut
- BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga 23 Februari, Sejumlah Wilayah Diminta Waspada
Selain itu, masjid juga menerapkan sistem pengelolaan dan daur ulang air. Air yang digunakan ditampung dan diolah kembali untuk memastikan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Selama Ramadan, Masjid Istiqlal juga menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, seperti shalat tarawih, kuliah tujuh menit (kultum), hingga peringatan Nuzulul Quran yang melibatkan tokoh agama dan publik dari berbagai negara Asia Tenggara.
