Tinjau Lokasi Gempa NTT, Mendagri Minta Pemkab Klasifikasikan Kerusakan Sekolah dan Fasilitas Umum
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah (Pemda) untuk mempercepat proses pendataan bangunan sekolah dan rumah ibadah yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Arah strategis tersebut disampaikan Tito usai meninjau langsung kondisi salah satu masjid yang roboh akibat guncangan gempa di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Menurut Tito, pemetaan dan kategorisasi tingkat kerusakan pada kedua fasilitas publik tersebut sangat vital sebagai basis data acuan bagi kementerian teknis untuk melakukan penanganan serta pemulihan darurat. Langkah percepatan ini diperlukan agar hak dasar pendidikan anak serta kebutuhan spiritual masyarakat di zona terdampak bencana tetap terpenuhi.
“Pak Bupati, tolong, Pak didatakan juga sekolah-sekolah dan rumah ibadah, berapa jumlah SD, SMP, SMA, atau PAUD. Setelah itu, tingkat kerusakannya ringan, sedang, berat. Secepat mungkin, makin cepat didata, makin cepat juga kita bergerak,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8).
Berdasarkan rekam jejak mitigasi dan penanganan bencana sebelumnya, Tito menilai Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memiliki skema respons cepat untuk memulihkan fasilitas pendidikan.
BACA JUGA
- Mengenal Cakra NX1, Motor Listrik Nasional yang Diresmikan Presiden Prabowo
- Penelitian Ungkap Garam Laut yang Diperjualbelikan di Lombok Tercemar Mikroplastik
- Presiden Prabowo: Pengembangan PLTS 100 GW Bisa Hemat Anggaran Listrik Rp73,9 Triliun per Tahun
Ia mencontohkan penanganan pascabencana tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra (mencakup Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat). Kala itu, terdapat 4.922 fasilitas sekolah yang mengalami kerusakan, namun sebagian besar telah berhasil direstorasi.
“Di Sumatera itu 4.922 sekolah yang rusak. Itu sebagian besar sudah 80-90 persen sudah jalan semua operasional (rehabilitasi dan rekonstruksi),” jelasnya.
Tito memastikan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian tinggi terhadap keberlanjutan proses belajar-mengajar siswa di daerah bencana. Apabila infrastruktur sekolah mengalami kerusakan kategori berat, pihak Kemendikdasmen siap menerjunkan logistik kelas darurat sembari proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan fisik berjalan.
“Tapi yang utama kita harus mikirin gimana caranya agar proses belajar-mengajarnya tetap berjalan. Nah, itu di Kemendikdasmen mereka sudah punya peralatannya. Ya tendanya, kursi lipatnya, segala macam supaya bisa berjalan,” tuturnya.
Setelah berinteraksi langsung dengan para penyintas di posko pengungsian, Mendagri turut menyambangi SMP Abdurrahman Wahid di Kecamatan Lamba Leda Utara—salah satu unit pendidikan di pesisir utara Manggarai Timur yang mengalami kerusakan parah—untuk menyerahkan santunan pribadi kepada pengurus sekolah.
