Gletser Papua Diprediksi Hilang pada 2030 akibat Pemanasan Global
Jakarta, sustainlifetoday.com – Para ilmuwan memperkirakan es di Puncak Jaya, Barisan Sudirman, Papua, akan mencair sepenuhnya pada 2030. Dengan hilangnya dua gletser terakhir, yakni Carstensz dan East Northwall Firn, Indonesia diperkirakan menjadi salah satu dari tiga negara di dunia bersama Venezuela dan Slovakia yang kehilangan seluruh gletsernya akibat pemanasan global.
Dalam 44 tahun terakhir, Puncak Jaya telah kehilangan sekitar 97 persen lapisan es dan empat gletsernya. Para peneliti menyebut pemanasan global menjadi faktor utama pencairan gletser di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, kondisi tersebut diperparah oleh fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO), pola iklim global yang memengaruhi suhu dan curah hujan di banyak wilayah.
“Di Papua, kondisi menjadi lebih kering dan hangat selama El Niño, yang berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan pencairan lebih besar. Keduanya bisa menjadi lonceng kematian, terutama bagi gletser kecil,” kata ahli geologi dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Mike Kaplan seperti dikutip dari situs resmi Columbia Climate School, Kamis (28/5).
Kaplan yang meneliti sejarah gletser, iklim, dan bentang alam masa lalu mengatakan peristiwa El Niño 2015–2016 memberi dampak besar terhadap percepatan pencairan es di Papua.
Tim peneliti menyimpulkan tren penyusutan es terus berlangsung dan memburuk selama periode El Niño. Berdasarkan tren tersebut, mereka memodelkan potensi kehilangan es di masa mendatang.
BACA JUGA
- Wakil Ketua DPD RI Kritik PSN Merauke, Disebut Perparah Eksploitasi Papua
- Komnas HAM: PSN di Merauke Berpotensi Memperdalam Marginalisasi Orang Papua
- Indocement Operasikan PLTS 71,9 MW untuk Dekarbonisasi Industri Semen
Kaplan menilai peluang penyelamatan gletser Papua kini sangat kecil, bahkan jika emisi gas rumah kaca dihentikan saat ini juga.
“Suhu akan terus meningkat selama beberapa tahun meskipun kadar gas rumah kaca sudah stabil karena planet membutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan,” kata Kaplan.
Menurut dia, pemanasan diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2030. Kondisi yang semakin hangat dan kering membuat gletser tropis di Papua sulit bertahan, terlebih jika El Niño kuat kembali terjadi.
Hilangnya gletser Papua juga dinilai bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi menyangkut hilangnya warisan budaya masyarakat adat Papua. Dalam wawancara dengan GlacierHub, Wewin Wira Cornelis Wahid, lulusan program MS in Sustainability Management dari Columbia Climate School, mengatakan kawasan pegunungan bersalju tersebut memiliki makna spiritual mendalam bagi masyarakat Papua.
“Gletser bukan sekadar bentang alam fisik, tetapi bagian inti dari identitas spiritual. Kehilangannya bukan hanya perubahan lingkungan, tetapi juga pengikisan warisan budaya,” kata Wahid.
Ia menambahkan, salju abadi yang selama ini dianggap permanen kini menjadi simbol rapuhnya alam di tengah perubahan iklim global.
Para ilmuwan menjelaskan gletser tropis termasuk yang paling rentan terhadap kenaikan suhu karena ukurannya relatif kecil dibanding gletser di lintang tinggi. Kaplan menyebut kondisi di Papua dapat menjadi peringatan dini bagi nasib gletser di berbagai wilayah dunia.
“Gletser di sini dapat dianggap sebagai kenari di tambang batu bara, terutama bagi negara-negara yang sejak awal hanya memiliki sedikit es gletser,” ujarnya.
Peneliti lain dalam studi tersebut juga menyebut pencairan gletser Papua sebagai “tanda peringatan” mengenai dampak perubahan iklim global terhadap kawasan pegunungan tinggi dan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
