BRIN Kembangkan Tanggul Tegak Multifungsi untuk Tangani Banjir Rob di Pesisir
Jakarta, sustainlifetoday.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) sebagai solusi penanganan banjir rob dan abrasi di wilayah pesisir. TTMF dirancang sebagai struktur tanggul laut berbasis blok modular beton yang lebih ramping, hemat material, dan diklaim lebih ramah lingkungan dibanding tanggul konvensional.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Dinar Catur Istiyanto, mengatakan pengembangan TTMF dilakukan untuk menjawab kebutuhan desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur tanpa memberi tekanan berlebih terhadap lingkungan.
“Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan,” kata Dinar, dilansir dari Antara, Jumat (20/2).
Berbeda dengan tanggul konvensional yang melebar hingga ratusan meter ke arah laut, TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak atau vertical seawall berbahan beton bertulang. Desain ini membuat penggunaan ruang menjadi lebih efisien.
Struktur TTMF menggunakan sistem blok modular atau caisson yang disusun seperti kepingan lego. Sistem tersebut memungkinkan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi lebih fleksibel, sekaligus menyesuaikan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri.
“Blok-blok beton ini diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi. Dengan cara ini, konstruksi bisa berlangsung lebih cepat,” tutur Dinar.
BACA JUGA:
- Pemerintah Prancis Perintahkan Warganya Batasi Konsumsi Daging untuk Kurangi Dampak Iklim
- Indonesia Siapkan Kredit Keanekaragaman Hayati untuk Perkuat Pembiayaan Konservasi
- Menag Nasaruddin Umar Gaungkan “Ramadhan Hijau” di Masjid Istiqlal
Keunggulan utama TTMF adalah efisiensi ruang. Lebar tanggul dapat disesuaikan dengan kebutuhan fungsi di atasnya. Jika digunakan sebagai pendukung jalan raya, lebarnya berkisar 10 hingga 20 meter, jauh lebih sempit dibanding tanggul urugan konvensional.
Selain melindungi pantai dari gelombang laut, TTMF juga dapat berfungsi sebagai tanggul waduk kedap air dan dirancang memiliki nilai tambah ekonomi melalui integrasi teknologi energi terbarukan.
Salah satu inovasi pada desain ini adalah integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column (OWC), yang memungkinkan energi gelombang laut dikonversi menjadi listrik.
“Prinsipnya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam, kini bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik,” kata Dinar.
Bagian atas tanggul juga dirancang cukup kuat untuk menopang infrastruktur jalan raya. Dengan demikian, satu struktur dapat menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan energi terbarukan secara bersamaan.
Dari sisi material, TTMF menggunakan beton bertulang yang mengacu pada standar SNI. BRIN juga memanfaatkan limbah industri seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batubara sebagai bahan campuran.
BRIN berharap riset TTMF dapat terhubung dengan proyek-proyek strategis nasional. Implementasi di lapangan dinilai penting untuk membuktikan efektivitas desain tersebut dalam menghadapi perubahan iklim dan kenaikan muka air laut.
